Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Sahibul Mushola 8

Baca cerita sebelumnya  di sini , ya :) "Dan aku akan ke kantor pos itu" kataku dengan mantap. "Di mana alamatnya?" tanya Hafiz. "Di Jalan Krakatau, Kampung Durian" "Oh, ya ya. Aku tahu," kata Ilham. "Kau sendiri yang ke sana, Li?" tanya Bayu. "Iya," "Oh, jadi kau nggak percaya sama kami?" "Maksudnya? Oh, ya ya. Kalau kalian mau ikut, ayoklah," kataku. "Kapan, Li?" tanya Mitra. "Aku harus tahu info dari surat aneh atau kertas aneh itu atau apalah yang aneh-aneh itu sekarang," kataku. "Jadi sekarang? Nggak solat dulu?" tanya Hafiz. "Aku solat di sana nanti. Gimana? Kalian mau ikut sekarang?"

Sahibul Mushola 7

NB: Cerita "Sahibul Mushola" ini bukan kisah nyata, bukan juga diary saya. Cerita ini hanyalah fiktif. :) Baca cerita sebelumnya di sini , ya :) Tak terasa, ternyata aku sudah tidur selama 3 jam dari jam 9 pagi tadi. Mungkin karena semalam aku cuma tidur 2 jam di rumah Farouq. Entah kenapa aku kali itu bisa tidur nyenyak padahal ada kertas aneh itu lagi, kertas yang didapat Hafiz dan kawan-kawan di jalan. Sekali lagi pertanyaan itu keluar: "Kenapa pengirim atau peletak kertas itu bisa tahu aku ada di sekitar jalan itu?" Seperti biasa, kalau aku baru bangun, aku selalu tampak keren. Rambutku yang lebat menjadi berantakan. Yah, ini sekalian pemujian diri sendiri daripada tidak ada yang memuji. :D Dan aku tidak pernah menata rapi rambutku yang suka berantakan jika baru bangun tidur. Setelah melihat jam, seperti biasa, aku kembali merebahkan badan untuk "tidur-tiduran ayam" karena memang  masih atau lebih tepatnya "tidak ada" hal yang perlu ...

Pretence 6

Hari ini Zhafran berangkat bareng Genta ke kampus. Semalam Genta menginap di kosan Zhafran. Alasannya karena dia lagi ingin tidur di rumah orang saja. "Gilak. Hari ini panas banget", kata Genta mengeluh di jalan menuju kampus. "Namanya Indonesia, Gen", kata Zhafran mulai mengkritik negara Indonesia "Lah, ini, kan, negara lo juga". "Negara lo juga". "Iya..iya.. cerewet amat lo". Sampai di kampus, mereka langsung menuju kantin. Pas mau berangkat tadi, mereka belum sarapan. Maklumlah, kehidupan mahasiswa yang tidak tinggal dengan orang tua hampir sering miris. Di kantin mereka ketemu Dina dengan temannya. Zhafran dan Genta tidak menyapanya. Mereka lagi malas. :D Setelah sarapan, mereka pun ke kelas dan akan ketemu dosen mereka.

Pretence 5

NB: Baca cerita sebelumnya di sini , ya Hari ini, Zhafran, Genta, dan Dina melanjutkan kegiatannya di acara Pameran Budaya Jepang ini. Hari ini pengunjung pameran semakin banyak. Mereke bertiga, sebagai panitia publikasi merasa bangga kalau pesertanya banyak hadir. Artinya mereka berhasil mempublikasi kegiatan. "Wah, Alhamdulillah. Semua kampus yang kita undang mendatangkan perwakilannya ke acara ini," kata Dina ke semua panitia publikasi. Sebagai ketua seksie, dia meraasa bangga. "Semua kampus lo bilang?" tanya Zhafran. "Iya, Zhaf. Kalo lo nggak percaya, silahkan aja cek semua tempat ini dan absen satu-satu kampusnya. Hahahaha..." "Hahaha, iya deh. Gue percaya." Secercah harapan muncul di pikran Zhafran. Akankah dia bisa ketemu Indah hari ini? "Gen, Indah datang nggak?" bisik Zhafran ke Genta. "Gue nggak tau. Lo cek aja deh." "Eh, Indah aktif nggak di PEMA?" PEMA singakatan dari Pemerintah Mahasiswa. ...

Pretence 4

NB: Karena banyaknya permintaan untuk melanjutkan cerita "Pretence" ini (Sebenarnya kata "banyak" itu sama dengan 3 orang), maka gue lanjutkan deh ceritanya. Baca cerita sebelumnya di sini , ya "Lah, lo kok retweet twit dia yang 2 hari yang lalu juga sih? Apa lo gak malu nanti dianggap udah mantau timeline-nya Indah?" tanya Zhafran ke Genta. "Ah, nggak. Iseng aja," kata Genta cengir. "Nanti dia nganggap yang aneh-aneh ke lo gimana?" "Nanti gue bilang cuma iseng ke dia. Tenang aja deh, Zhaf. Gue nggak suka dia kok," kata Genta menepuk pundak Zhafran. "Oy, siapa yang cemburu?" 2 menit kemudian, Indah membalas twit Genta tadi. Gue di lapangan basket, Gen RT @genta21: emang, lo dimana? RT @indahmr: yah, kehujanan "Dia di lapangan basket," kata Genta. "Lapangan basket mana?" "Mana gue tau. Mungkin lapangan basket kampusnya kali." Zhafran merasa kecewa. Saat ini dia berharap ...

Sahibul Mushola 6

"Siapa Muhammad Ali Imran?" Itulah kalimat yang tertera di atas kertas yang baru diperoleh Hafiz beberapa jam yang lalu. "Fiz, darimana kau dapati itu? Tolong. Jawab. Jujur", kataku setengah memaksa. "Tadi, kami berhenti sebentar di pinggir jalan..." kata Hafiz mengawali pernyataannya. "Kenapa berhenti?" tanyaku tidak sabar. "Bentar dulu, Li. Kami tau kau panik. Tapi, dengar dulu sebentar. Nah, kami berhenti gara-gara melihat kertas aneh ini di tengah jalan. Menurutku itu aneh." "Kenapa aneh?", aku kurang yakin kertas di tengah jalan bisa membuat orang heran. Menurutku kertas di tengah jalan pasti akan dianggap sampah biasa oleh banyak orang. Sejenak, aku mencurigai Hafiz. "Karena kertas itu tertempel di atas batu besar. Ya, kira-kira sebesar bola kaki lah. Aneh aja kalo ada batu sebesar itu di tengah jalan pas dini hari. Maka ku suruh Bayu berhenti," terang Hafiz. "Oh, ya, aku juga lihat ada sosok ya...

Sahibul Mushola 5

Note: Cerita ini bukanlah cerita sinetron. Apalagi cerita cengeng. Cerita ini adalah cerpen. Ingat! Ini blog. Bukan sinema elektronik. Jadi kalo ada bagian yang agak lebay, itu karena gue habis nonton sinetron. Info: Kalo belum baca cerita sebelumnya, klik ini Selama mereka sholat, orang yang paling ku harapkan bersamaku saat ini hanyalah guru BP yang memberi surat itu kepada Hafiz. Di tempat duduk yang di depan mushola itu aku duduk menunduk. Ini jarang sekali kulakukan, karena biasanya aku melihat orang-orang yang lewat di depan mushola. Para sahibul mushola sudah siap sholat. Sampai di tempat duduk yang kududuki, mereka hanya melihatku. Sebenarnya sikap seperti ini sangat ku benci. Sikap melihat seperti itu membuat harga diriku seperti diinjak. Jatuh sekali. "Jangan lihat aku kayak gitu", kataku datar. Spontan mereka langsung duduk di tempat duduk. "Kayaknya itu cuma iseng, Li", kata Ilham. Aku diam saja. "Gak usah dipikirkan kali", ka...

Sahibul Mushola 4

Note: Cerita ini bukanlah cerita sinetron. Apalagi cerita cengeng. Cerita ini adalah cerpen. Ingat! Ini blog. Bukan sinema elektronik. Jadi kalo ada bagian yang agak lebay, itu karena gue habis nonton sinetron. Info: Kalo belum baca cerita sebelumnya, klik ini *** Spontan kalimat surat itu membuat semuanya tertuju padaku. Semuanya terkejut, dan aku punya rasa lebih dari itu. "DIMANA MUHAMMAD ALI IMRAN?" Itu kalimat surat itu. Kenapa surat itu sampai pada Hafiz? Kenapa surat itu dikirim Tukang Pos? Kenapa? Sementara mereka masih melihatku dengan pandangan tajam, aku langsung merebut surat itu dari tangan Hafiz, kemudian berlari menuruni tangga. Semoga saja guru BP belum pulang. Sampai di kantor BP, aku melihat salah satu guru BP yang sedang makan. Bukan. Dia bukan orang yang menerima surat itu. "Eh, nak. Kenapa lari-lari kamu?" Namun, ku jawab dengan: "Haaa" Lantas aku berjalan menuju mushola. Aku sempat lupa, kalau aku belum solat z...

Sahibul Mushola 3

Note: Jika belum baca cerita sebelumnya, klik ini NB: Cerpen ini, bukanlah cerita humor. Jika terdapat kalimat-kalimat lucu, itu hanyalah selingan dan fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, julukan, tempat, lokasi, tempat, dan lokasi, bahkan juga tempat dan lokasi, serta tempat dan lokasi, gue mohon maaf. *** Hafiz mashi duduk termenung di bawah meja. Ya, di bawah meja. Dia bukan lagi galau. Bukan juga lagi putus cinta. Bahkan dia bukan lagi menyesali cintanya yang ditolak. Bukan semua dari beberapa kemungkinan di atas, tapi dia lagi duduk termenung. Seperti yang gue bilang di atas. Di  kolong meja itu, dipegangnya sebuah surat yang masih lengkap dengan amplop dan perangkonya. Amplop itu belum dibukanya. Selama 3 hari ini, dia memikirkan waktu yang tepat untuk membuka dan membaca surat yang pernah dikirim Tukang Pos kepada guru BP nya. Entah kenapa dia memiliki firasat buruk sama surat itu. Hujan di luar kamarnya masih turun dengan derasnya. Di bawah meja, Hafiz merasa h...

Sahibul Mushola II

Note: Untuk Yang Belum Baca Cerita Sebelumnya, klik ini   Bel istirahat udah berbunyi. Sepert biasa, aku langsung ke mushola. Yap, rasanya lebih enak habisi waktu 15 menit di mushola. Sampai di depan mushola, aku duduk di bangku yang ada di depan mushola. Seperti biasa juga, belum ada yang datang di musola. Teman-temanku masih ada di kelas. Tapi, aku yakin, mereka pasti datang ke mushola. Karena mereka adalah Sahibul Mushola. Pas lagi asyik-asyiknya membuka sepatu, Hafiz datang dengan berlari di bawah hujan sambil teriak "Ali, I love you..!" Dan ingin rasanya aku juga ikut berlari di bawah hujan untuk menghampirinya sambil teriak: "Hafiz, aku masih normaall..!" *Hening. Nggak. Yang itu cuma bercanda.  Tapi, Hafiz memang beneran lari (tapi gak di bawah hujan). "Kenapa, fiz? Kok lari?" tanyaku. "Hosh..hoshh..!" Hafiz terengah-engah. "Yaelah, santai, fiz" "Hah, tadi aku dapat surat." "Dari siapa?" ...

Sahibul Mushola

Semuanya udah lelah. Aku, Hafiz, dan Sulek pun pulang dari rumah Farouq. Kegiatan yang kami lakukan tadi membuat kami capek. Untung saja, aku punya kawan kayak mereka. Dan aku nggak tau apa mereka beruntung punya kawan kayak aku :D. "Yah, mendung", kataku. "Bante kata Sulek dengan intonasi melawak. Dan kami pun berangkat pulang dengan naik motor. Baru 5 menit kami mengayuh motor kami, eh bukan mengendarai motor kami, hujan turun. Wah, ini gawat. Bukan karena hujannya. Tapi, karena aku, dan teman-teman akan kebasahan (yaiyalah). Mana bensin kereta udah mau habis, dan sekarang motorku lagi menyendat-nyendat. Kami semua pun memutuskan untuk berteduh di bawah halte kecil. "Oh, ya. Kalian tunggu di sini aja ya. Aku mau isi bensin dulu. Nanti balik ke sini." kataku. "Oke", kata Sulek. "Beneran nunggu di sini, kan?" "iya" Dan aku langsung tancap gas menuju pom bensin. Sebenarnya aku nggak harus ke pom bensin, karena ada yang...

Pretence 3

Sejak itu, saat Zhafran melihat Indah, ada rasa lain yang timbul. Akibat, asal menyebut namanya waktu di kafe. Namun sampai sekarang Zhafran tidak menunjukkannya sama Indah secara terang-terangan. Semakin lama, semakin beda rasanya. namun, dia tidak mau SMS-an sama Indah. Zhafran tidak mau harga dirinya sebagai pria terjatuh. Hanya melalui twitter lah mereka berkomunikasi jika tidak ketemu. Tapi, Zhafran tetap tidak mau menunjukkan rasanya. Suatu hari Genta bertanya pada Zhafran "Gen, kok bisa sama Indah sih Gen?" "Gue gak tau." "Hemm." "Gue rasa dia punya inner beauty." "Lo nyesel nyebuti nama dia waktu di kafe itu?" "Banget" "loh? Kenapa?" "Habis lo juga ikutan ramah sama dia di twitter. Katanya lu kan baru kenal sama dia" "Jadi lo cemburu gitu? Hahahaha.." "Makanya gue nyesal udah nyebuti namanya waktu itu. Astaghfirullah." "Mulai deh" Pernah waktu itu, Zha...

Pretence 2

Esoknya, Zhafran, Dina dan Genta juga mengantar proposal. Dan seperti kemarin, mereka berkumpul di kafe biasa mereka. Kali ini tidak ada yang telat dari waktu yang ditentukan. Semua datang lebih awal dari waktu yang ditentukan. Di kafe itu mereka bercanda dan asyik ngobrol tentang apa saja. "Oh iya. Indah nanti ikut lagi gak, Gen?" tanya dina. "oh, iya. Pasti. Banyak perusahaan yang punya relasi sama bokapnya. Jadi dia mau bantu kita juga." "wah, hebat ya" "Kita nggak berangkat sekarang?" tanya Zhafran. "Yah, masih jam berapa ni, Zhaf. Cepat banget" kata Genta. "Yah, kan lebih cepat lebih baik." Jiwa kedislipinan Zhafran keluar. "nanti aja ya." "Kan gak salah kita cepat-cepat". "Kita kan masih bisa bercanda di sini. Ya, gak, Din?" "Mau jumpa sama siapa sih, Zhaf? Cepat banget" kata Dina. "Sama siapa? Yah gak adalah." "Mau jumpa sama office girl nya, kan...

Pretence

Cerita ini adalah cerita bersambung. Alangkah baiknya untuk terus membacanya ke serial ketiga. Kalo gak enak, close aja. Hahaha "Ayolah. Kayaknya udah telat nih", kata Zhafran sambil melihat jam. "Bentar ya", Dina masih sibuk dengan laptopnya. Terpaksa Zhafran tetap menunggu Dina mengetik proposal di laptopnya. hari ini mereka mau mengantar proposal itu ke beberapa perusahaan untuk mencari dana demi kegiatan mereka. Rencananya Zhafran, Dina dan beberapa anggota organisasinya akan pergi ke luar negeri untuk studi banding. Maka dari itu, untuk meringankan pengeluaran mereka, mereka mengajukan proposal ke beberapa perusahaan. "Oke, udah siap" "Kita print" Mereka pun pergi ke percetakan untuk nge-print proposal. Setelah itu, mereka mengantar proposal itu ke berbagai perusahaan. Rencananya, Zhafran dan Dina akan mengantar propsal dengan Genta besok. Mereka akan ketemu di kafe tempat mereka biasa berkumpul. *** Sudah 5 menit Zhafran ...

Jangan Menyerah

Panas terik matahari tidak menggoyahkan semangatnya untuk menonton penampilan seorang yang memainkan biola dengan indahnya di pinggir jalan. Selain Maya, banyak juga orang yang menonton. Para penonton tampak tercengang melihat aksi menakjubkan dari seorang pemain biola itu. Maya masih saja mengimpikan menjadi seorang pemain biola handal, walaupun dia tahu dia punya kekurangan. Dia tuli. Kekurangan ini sudah dimilikinya sejak berumur 9 bulan. Pada saat itu, dia sudah tidak seriang seperti sebelumnya. Impiannya yang tinggi ini sering diutarakan pada orang-orang yang mengenalnya. Impian yang tidak realistis bagi kebanyakan orang. "Seharusnya kau ngaca dulu. Saya yang normal saja belum terlalu pandai memainkan piano. Apalagi kau yang...em, biar ku tebak. Tuli mungkin", ungkap Cindy, temannya yang sangat tidak suka sama orang yang terlalu sering berkhayal, melalui sebuah tulisan di kertas ketika mereka bersama-sama di ruang musik. Tulisan ini membuat Maya menjauhi Cindy. T...