Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label adventure

Eat, Pray, and Love (Banyuwangi) II

  “Ini kamarku. Kalian tidur di sini, ya,” kata Angga selesai mengantar kami ke kamarnya.   Aku melihat kamar Angga adalah kamar anak cowok yang memiliki hati yang lembut bagaikan duri. Begitu jika tidak mau dikatakan ‘kamar cewek’. Bagaimana tidak? Kamarnya itu rapi, bersih, harum, dan terlalu memiliki suasana yang feminim banget. Tapi, tunggu, Angga. Kamu tidak boleh bangga. Kamar-anak-cowok-yang-memiliki-hati-yang-lembut-bagaikan-duri ini adalah kamar yang kau tinggalkan berbulan-bulan, kawan. Itu artinya orang lainlah yang merawat kamar ini. Kemungkinan besar adalah ibumu. Bukan kamu, kawan. Bukan. Hohohohohoho…. Selesai menata barang di kamar-anak-cowok-yang-memiliki-hati-yang-lembut-bagaikan-duri ini, aku, Wahyu, Wawa, dan Arif keluar menuju ruang keluarga yang sekaligus ruang tamu. Kami disuguhkan cemilan.  Melihat cemilan itu mataku nanar. Menatap dengan birahi. Terlalu sayang untuk tidak dijamah. Lahap. Ya, kami lahap memakannya. Terlebih lagi W...

Terombang-Ambing Menuju Sumbing III

Baca cerita sebelumnya: 1. Terombang-Ambing Menuju Sumbing I 2. Terombang-Ambing Menuju Sumbing II "Sudah?" Wahyu angkat bicara saat semuanya pada sibuk menikmati keindahan alam-Nya. "Yok..yok" Humaam bangkit berdiri menyandang tasnya. Sepertinya sudah sedikit puas menikmati keindahan malam-Nya. Kami pun melanjutkan perjalanan. Aku yang baru diberi senter pun disarankan untuk mengambil posisi tengah di antara rombongan kami. Malam ini semakin dingin saja. Sarung tanganku basah dan berpasir. Celana kotor dan aku melihat temanku pun seperti itu. Basah dan kotor. Dalam perjalanan yang agak sulit ini -jalanan tanah, sempit, agak mendaki, dengan rumput-rumput liar di sekitarnya dan pohon-pohon yang tumbuh tak beraturan-, aku sering mendongak ke atas, melihat bintang-bintang yang berserakan. Berserakan tapi memiliki keindahan. Mirip dengan kamu (nah loh?). Sudah pukul 00.02, masih belum menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Ya, ternyata perkiraan ak...

Terombang-Ambing Menuju Sumbing

"Sunrise. Yah, sunrise itu bagus," kata Wahyu di sekre KMFM. "Bagusnya nggak masuk akal gituh?" sambungku. "Akhir pekan ini kosong, nggak?" tanya Wahyu pada para lelaki di sekre. Terlihat sebagian berbaring santai, sebagian lagi bercerita. Saat itu saya merasa orang yang bercerita adalah orang yang sadis. Sadis sekali berbicara dengan intensitas bunyi beratusan desibel. Supri contohnya. Meskipun, Supri ini punya tubuh yang jika kita melihatnya, hasrat untuk mencubit pipinya bisa timbul. Eh, maaf. "Kenapa?" tanya Ipul dengan suara wibawanya. Dengan gaya bicaranya yang seperti itu, tidak terlalu tua untuk usianya yang sekarang. Cukup singkron dengan wajahnya yang tampan. "Sindoro! Kita ke Sindoro!" Wahyu menjawab dengan antusias. "AYOK! Ayok, ayok!" Aku yang dari posisi berbaring bangkit duduk. Bayanganku pada sunrise di gunung sambil melihat gunung-gunung lain di Pulau Jawa itu sudah cukup membuat rasa kant...