Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sahibul Mushola

Anak-Anak Sahibul Mushola

Assalamu'alaikum, teman-teman. Kali ini aku akan menceritakan karakter dari setiap anak-anak Sahibul Mushola. Kalo kamu belum tau Sahibul Mushola itu apa, nah, aku akan menceritakan sedikit. Sahibul Mushola itu suatu perkumpulan anak-anak yang sering ngumpul di Mushola SMA Negeri 1 Medan. Dan sejarah namanya bisa dibaca di sini Oke, aku akan menceritakan karakter anak-anak Sahibul Mushola berdasarkan abjad nama panggilan. 1. Adrian Ngeliat foto ini aku takut naksir Adrian -,- Yap. Yang pertama adalah Adrian, manusia yang terkenal ganteng sejagat raya. Lihat saja dari fotonya, dari gayanya saja bisa buat kaum hawa terpikat. 2. Akbar Nah, ini namanya Akbar. Dia ini sebenarnya baik. Dan satu hal yang buat dia menarik adalah dia itu cowok yang melankolist banget. Apa-apa dibikin drama. Satu yang harus kita lakui kalo kita berdialog sama dia adalah "menahan diri untuk terbuai masuk dalam drama yang telah dibuatnya" Contoh yang salah jika n...

Sahibul Mushola 8

Baca cerita sebelumnya  di sini , ya :) "Dan aku akan ke kantor pos itu" kataku dengan mantap. "Di mana alamatnya?" tanya Hafiz. "Di Jalan Krakatau, Kampung Durian" "Oh, ya ya. Aku tahu," kata Ilham. "Kau sendiri yang ke sana, Li?" tanya Bayu. "Iya," "Oh, jadi kau nggak percaya sama kami?" "Maksudnya? Oh, ya ya. Kalau kalian mau ikut, ayoklah," kataku. "Kapan, Li?" tanya Mitra. "Aku harus tahu info dari surat aneh atau kertas aneh itu atau apalah yang aneh-aneh itu sekarang," kataku. "Jadi sekarang? Nggak solat dulu?" tanya Hafiz. "Aku solat di sana nanti. Gimana? Kalian mau ikut sekarang?"

Sahibul Mushola 7

NB: Cerita "Sahibul Mushola" ini bukan kisah nyata, bukan juga diary saya. Cerita ini hanyalah fiktif. :) Baca cerita sebelumnya di sini , ya :) Tak terasa, ternyata aku sudah tidur selama 3 jam dari jam 9 pagi tadi. Mungkin karena semalam aku cuma tidur 2 jam di rumah Farouq. Entah kenapa aku kali itu bisa tidur nyenyak padahal ada kertas aneh itu lagi, kertas yang didapat Hafiz dan kawan-kawan di jalan. Sekali lagi pertanyaan itu keluar: "Kenapa pengirim atau peletak kertas itu bisa tahu aku ada di sekitar jalan itu?" Seperti biasa, kalau aku baru bangun, aku selalu tampak keren. Rambutku yang lebat menjadi berantakan. Yah, ini sekalian pemujian diri sendiri daripada tidak ada yang memuji. :D Dan aku tidak pernah menata rapi rambutku yang suka berantakan jika baru bangun tidur. Setelah melihat jam, seperti biasa, aku kembali merebahkan badan untuk "tidur-tiduran ayam" karena memang  masih atau lebih tepatnya "tidak ada" hal yang perlu ...

Sahibul Mushola 6

"Siapa Muhammad Ali Imran?" Itulah kalimat yang tertera di atas kertas yang baru diperoleh Hafiz beberapa jam yang lalu. "Fiz, darimana kau dapati itu? Tolong. Jawab. Jujur", kataku setengah memaksa. "Tadi, kami berhenti sebentar di pinggir jalan..." kata Hafiz mengawali pernyataannya. "Kenapa berhenti?" tanyaku tidak sabar. "Bentar dulu, Li. Kami tau kau panik. Tapi, dengar dulu sebentar. Nah, kami berhenti gara-gara melihat kertas aneh ini di tengah jalan. Menurutku itu aneh." "Kenapa aneh?", aku kurang yakin kertas di tengah jalan bisa membuat orang heran. Menurutku kertas di tengah jalan pasti akan dianggap sampah biasa oleh banyak orang. Sejenak, aku mencurigai Hafiz. "Karena kertas itu tertempel di atas batu besar. Ya, kira-kira sebesar bola kaki lah. Aneh aja kalo ada batu sebesar itu di tengah jalan pas dini hari. Maka ku suruh Bayu berhenti," terang Hafiz. "Oh, ya, aku juga lihat ada sosok ya...

Sahibul Mushola 5

Note: Cerita ini bukanlah cerita sinetron. Apalagi cerita cengeng. Cerita ini adalah cerpen. Ingat! Ini blog. Bukan sinema elektronik. Jadi kalo ada bagian yang agak lebay, itu karena gue habis nonton sinetron. Info: Kalo belum baca cerita sebelumnya, klik ini Selama mereka sholat, orang yang paling ku harapkan bersamaku saat ini hanyalah guru BP yang memberi surat itu kepada Hafiz. Di tempat duduk yang di depan mushola itu aku duduk menunduk. Ini jarang sekali kulakukan, karena biasanya aku melihat orang-orang yang lewat di depan mushola. Para sahibul mushola sudah siap sholat. Sampai di tempat duduk yang kududuki, mereka hanya melihatku. Sebenarnya sikap seperti ini sangat ku benci. Sikap melihat seperti itu membuat harga diriku seperti diinjak. Jatuh sekali. "Jangan lihat aku kayak gitu", kataku datar. Spontan mereka langsung duduk di tempat duduk. "Kayaknya itu cuma iseng, Li", kata Ilham. Aku diam saja. "Gak usah dipikirkan kali", ka...

Sahibul Mushola 4

Note: Cerita ini bukanlah cerita sinetron. Apalagi cerita cengeng. Cerita ini adalah cerpen. Ingat! Ini blog. Bukan sinema elektronik. Jadi kalo ada bagian yang agak lebay, itu karena gue habis nonton sinetron. Info: Kalo belum baca cerita sebelumnya, klik ini *** Spontan kalimat surat itu membuat semuanya tertuju padaku. Semuanya terkejut, dan aku punya rasa lebih dari itu. "DIMANA MUHAMMAD ALI IMRAN?" Itu kalimat surat itu. Kenapa surat itu sampai pada Hafiz? Kenapa surat itu dikirim Tukang Pos? Kenapa? Sementara mereka masih melihatku dengan pandangan tajam, aku langsung merebut surat itu dari tangan Hafiz, kemudian berlari menuruni tangga. Semoga saja guru BP belum pulang. Sampai di kantor BP, aku melihat salah satu guru BP yang sedang makan. Bukan. Dia bukan orang yang menerima surat itu. "Eh, nak. Kenapa lari-lari kamu?" Namun, ku jawab dengan: "Haaa" Lantas aku berjalan menuju mushola. Aku sempat lupa, kalau aku belum solat z...

Sahibul Mushola 3

Note: Jika belum baca cerita sebelumnya, klik ini NB: Cerpen ini, bukanlah cerita humor. Jika terdapat kalimat-kalimat lucu, itu hanyalah selingan dan fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, julukan, tempat, lokasi, tempat, dan lokasi, bahkan juga tempat dan lokasi, serta tempat dan lokasi, gue mohon maaf. *** Hafiz mashi duduk termenung di bawah meja. Ya, di bawah meja. Dia bukan lagi galau. Bukan juga lagi putus cinta. Bahkan dia bukan lagi menyesali cintanya yang ditolak. Bukan semua dari beberapa kemungkinan di atas, tapi dia lagi duduk termenung. Seperti yang gue bilang di atas. Di  kolong meja itu, dipegangnya sebuah surat yang masih lengkap dengan amplop dan perangkonya. Amplop itu belum dibukanya. Selama 3 hari ini, dia memikirkan waktu yang tepat untuk membuka dan membaca surat yang pernah dikirim Tukang Pos kepada guru BP nya. Entah kenapa dia memiliki firasat buruk sama surat itu. Hujan di luar kamarnya masih turun dengan derasnya. Di bawah meja, Hafiz merasa h...

Sahibul Mushola II

Note: Untuk Yang Belum Baca Cerita Sebelumnya, klik ini   Bel istirahat udah berbunyi. Sepert biasa, aku langsung ke mushola. Yap, rasanya lebih enak habisi waktu 15 menit di mushola. Sampai di depan mushola, aku duduk di bangku yang ada di depan mushola. Seperti biasa juga, belum ada yang datang di musola. Teman-temanku masih ada di kelas. Tapi, aku yakin, mereka pasti datang ke mushola. Karena mereka adalah Sahibul Mushola. Pas lagi asyik-asyiknya membuka sepatu, Hafiz datang dengan berlari di bawah hujan sambil teriak "Ali, I love you..!" Dan ingin rasanya aku juga ikut berlari di bawah hujan untuk menghampirinya sambil teriak: "Hafiz, aku masih normaall..!" *Hening. Nggak. Yang itu cuma bercanda.  Tapi, Hafiz memang beneran lari (tapi gak di bawah hujan). "Kenapa, fiz? Kok lari?" tanyaku. "Hosh..hoshh..!" Hafiz terengah-engah. "Yaelah, santai, fiz" "Hah, tadi aku dapat surat." "Dari siapa?" ...

Sahibul Mushola

Semuanya udah lelah. Aku, Hafiz, dan Sulek pun pulang dari rumah Farouq. Kegiatan yang kami lakukan tadi membuat kami capek. Untung saja, aku punya kawan kayak mereka. Dan aku nggak tau apa mereka beruntung punya kawan kayak aku :D. "Yah, mendung", kataku. "Bante kata Sulek dengan intonasi melawak. Dan kami pun berangkat pulang dengan naik motor. Baru 5 menit kami mengayuh motor kami, eh bukan mengendarai motor kami, hujan turun. Wah, ini gawat. Bukan karena hujannya. Tapi, karena aku, dan teman-teman akan kebasahan (yaiyalah). Mana bensin kereta udah mau habis, dan sekarang motorku lagi menyendat-nyendat. Kami semua pun memutuskan untuk berteduh di bawah halte kecil. "Oh, ya. Kalian tunggu di sini aja ya. Aku mau isi bensin dulu. Nanti balik ke sini." kataku. "Oke", kata Sulek. "Beneran nunggu di sini, kan?" "iya" Dan aku langsung tancap gas menuju pom bensin. Sebenarnya aku nggak harus ke pom bensin, karena ada yang...