Langsung ke konten utama

Postingan

Lihat Bapak Itu

Lihat bapak itu.
Berdiri di pojokan bis Transjakarta, dengan pakaian lesu.
Terlihat pula wajahnya yang kotor.
Tangannya hitam, tapi terlihat kekar (dan kasar?).
Jempolnya sibuk mengetik SMS di HP Nokia-nya.
Malu-malu pula dia ingin mengajak berbicara ke orang lain bertanya "sudah di mana ini, mas?"
Senyum kecut yang dia berikan, terasa sekali dia takut berbicara dengan orang yang berpakaian lebih rapi dari dirinya.

Lalu lihat pula dirimu.
Yang baru saja mengeluh.
Menggerutu bayar uang parkir dua ribu.
Kapan terakhir kali bersyukur?
Postingan terbaru

Bak Matahari Baru untuk Sentra IKM Tanggulangin

Sidoarjo – Sabtu (11/11) - Pangkal Jalan Raya Kludan dari Jalan Raya Tanggulangin terlihat dipenuhi toko tas dan koper. Tidak hanya itu saja. Toko jaket dan sandal juga turut memenuhi pinggiran jalanan yang sekarang sedang direnovasi itu. Barangkali pertanyaan yang terlintas di dalam benak pendatang saat pertama datang ke sini adalah “produksi industri rumahankah? Eh atau produk impor?”

Tidak heran, sebab dari kaca toko saja terlihat tas-tas dengan warna-warna yang tidak mencolok seolah menunjukkan produknya terbuat dari material yang berkualitas dengan model yang elegan. Namun, ada sedikit yang membuat tempat ini kurang meyakinkan: jalanannya masih belum tertata dengan baik karena masih direnovasi. Benar begitu?

Masuk langsung ke salah satu tokonya adalah usaha untuk memastikan itu semua. Mendengar kabar dari dunia maya, ada satu toko yang menjadi cikal bakal industri tas dan koper yang kemudian menjadi terkenal di Indonesia bahkan merambah hingga ke negara tetangga. Maka, setelah jala…

Identifikasi Pengaruh Tinggi Bangunan Terhadap Risiko Resonansinya untuk Mengurangi Potensi Kerusakan Terhadap Gempa Bumi

“Hai, Tangguh… Malam ini kamu ada acara, nggak? Nonton, yuk! Aku udah sengaja beli tiket layar tancap bioskop, nih!” kata Disya padaku.

Aku menoleh padanya, berpaling dari layar laptopku. Aku terdiam. Tak kusangka kalau dia ingin mengajakku menonton film. Berdua bersamanya.

Sekitar 5,3 detik aku hanya diam, menatap matanya. Baru saja aku ingin menanggapi ajakannya, aku merasa gemetar. Getaran badanku terasa cukup kuat.

Oh, tidak. Apakah ini yang namanya jatuh cinta?

“Tangguh, gempa!!!”

Aku kaget. Disya berteriak padaku.

Dia benar. Ternyata tidak cuma badanku yang gemetar. Tanda “EXIT” ikut bergoyang. Cangkir di samping laptopku pun juga mengeluarkan kopi. Kursi-kursi yang tidak diduduki bergetar, bergerak sendiri. Ya! Seisi kantor ternyata juga ikut bergetar. Gempa bumi!

Tidak lama kemudian, datanglah seorang floor warden menginstruksikan kami untuk jangan panik dan keluar dengan tenang melalui pintu emergency menuju titik kumpul di luar gedung dan dilarang menggunakan lift. Rekan-rek…

MABA

Pergi ke warung buat beli teman skripsian (baca: Tor*bika Cappucino). Sampai di warung, ketemu seorang mas-mas (baiknya ditulis ‘mas-mas’ yang bisa-saja-nanti-dikira-jamak atau tulis ‘mas’ aja yang kelihatan-agak-aneh-untuk-dibaca, ya?). Mas-mas ini sudah lama sekali saya ingin ajak bicara karena baru sekitar dua bulan ini dia kelihatan sering berjamaah di masjid. Sehingga buat siapa saja berpikir kalau mas-mas ini mungkin saja merupakan orang baru.
Kupikir, di warung sekarang inilah sepertinya saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk ngobrol-ngobrol dengan masnya, sekadar ingin menuntaskan keingintahuan kenapa baru kelihatan perkenalan saja.
Saya menunggu masnya selesai membeli. Selesai dia membeli, saya dihadapkan atas dua pekerjaan sekaligus: mencegat masnya agar tidak pergi-duluan-biar-bisa-diajak-ngobrol dan berusaha mencegah ibu-ibu warungnya tidak menganggap saya orang yang memberi harapan palsu yang datang-ke-warung-bukannya-membeli-tapi-malah-cuma-ngobrol-dengan-pembeli-la…

Eat, Pray, and Love (Banyuwangi) II

Eat, Pray, and Love (Banyuwangi) I

“BTW, Bali itu dekat sama Banyuwangi, kan, ya?” kata Wahyu di Sekre KMFM. “Iya, bahkan nyebrang dari Banyuwangi ke Bali aja murah. Di bawah sepuluh ribuan lah,” Angga menimpali. Anak Banyuwangi asli ini tetap menjawab dengan bahasa diplomatis banget.
Mendengar percakapan dua anak manusia ini membuatku membayangkan keadaan Bali dan Banyuwangi dengan segala kabar keindahannya. Aku membenarkan posisiku yang sedang santai banget -tiduran. Keadaan sekre yang agak sempit ini membuat hati kami makin dekat #eaaa
“Yok, ke sana yok!” kataku.
“Ayoklah. No wacana!!!” Wahyu menimpali.
“Eh, wacana di kalangan mahasiswa cuma dua, Yu. ‘Besok pagi kita jogging, yuk’ dan ‘Mulai besok, aku diet! Yes!’. Banyuwangi mah bukan wacana,” kataku sambil memikirkan dua wacana yang kusebutkan tadi sudah terjadi padaku. Kamu mungkin juga. Iya, kamu.
***
Dua bulan kemudian….
***
Akhirnya saya melepaskan amanah yang berat ini. Yap. Musyawarah Besar Keluarga Muslim FMIPA UGM (Mubes KMFM UGM) baru saja sudah terlaksana. Di …

Terombang-Ambing Menuju Sumbing III

Baca cerita sebelumnya: 1. Terombang-Ambing Menuju Sumbing I 2. Terombang-Ambing Menuju Sumbing II

"Sudah?" Wahyu angkat bicara saat semuanya pada sibuk menikmati keindahan alam-Nya.

"Yok..yok" Humaam bangkit berdiri menyandang tasnya. Sepertinya sudah sedikit puas menikmati keindahan malam-Nya.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Aku yang baru diberi senter pun disarankan untuk mengambil posisi tengah di antara rombongan kami.

Malam ini semakin dingin saja. Sarung tanganku basah dan berpasir. Celana kotor dan aku melihat temanku pun seperti itu. Basah dan kotor.

Dalam perjalanan yang agak sulit ini -jalanan tanah, sempit, agak mendaki, dengan rumput-rumput liar di sekitarnya dan pohon-pohon yang tumbuh tak beraturan-, aku sering mendongak ke atas, melihat bintang-bintang yang berserakan. Berserakan tapi memiliki keindahan. Mirip dengan kamu (nah loh?).

Sudah pukul 00.02, masih belum menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Ya, ternyata perkiraan aku, Wawa, dan Dikko…