Langsung ke konten utama

Postingan

Terombang-Ambing Menuju Sumbing III

Baca cerita sebelumnya: 1. Terombang-Ambing Menuju Sumbing I 2. Terombang-Ambing Menuju Sumbing II "Sudah?" Wahyu angkat bicara saat semuanya pada sibuk menikmati keindahan alam-Nya. "Yok..yok" Humaam bangkit berdiri menyandang tasnya. Sepertinya sudah sedikit puas menikmati keindahan malam-Nya. Kami pun melanjutkan perjalanan. Aku yang baru diberi senter pun disarankan untuk mengambil posisi tengah di antara rombongan kami. Malam ini semakin dingin saja. Sarung tanganku basah dan berpasir. Celana kotor dan aku melihat temanku pun seperti itu. Basah dan kotor. Dalam perjalanan yang agak sulit ini -jalanan tanah, sempit, agak mendaki, dengan rumput-rumput liar di sekitarnya dan pohon-pohon yang tumbuh tak beraturan-, aku sering mendongak ke atas, melihat bintang-bintang yang berserakan. Berserakan tapi memiliki keindahan. Mirip dengan kamu (nah loh?). Sudah pukul 00.02, masih belum menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Ya, ternyata perkiraan ak...

Terombang-Ambing Menuju Sumbing II

Motor kembali dijalankan. Kami menuju basecamp pendakian Gunung Sumbing. Dalam perjalanan, aku sering memikirkan: Apa ini tidak terlalu berbahaya? Tapi, aku masih belum menemukan korelasi antara (1) penentuan tujuan yang dadakan dengan (2) persiapannya yang sebenarnya sama, sama-sama ke gunung. Sekitar 10 menit perjalanan naik motor, akhirnya kami sampai di basecamp pendakian Gunung Sumbing. Aku melihat jam tangan: pukul 17.30. Hari sudah gelap. Kabut juga udah muncul. Aku melihat banyak orang di sini, laki-laki dan perempuan. Wahyu mulai mengurus administrasinya. Sedangkan yang lain, mengurus parkiran motor: kunci motor tidak boleh dicabut. Segalanya disiapkan. Menyusun letak barang dalam tas carrier juga cukup penting untuk dilakukan, mengingat medannya yang cukup terjal. Yang belum beli sarung tangan dan penutup kepala pergi ke toko terdekat buat beli. Kemudian shalat maghrib berjama'ah di masjid terdekat dan dijamak-qashar dengan shalat Isya. Briefing sebent...

Terombang-Ambing Menuju Sumbing

"Sunrise. Yah, sunrise itu bagus," kata Wahyu di sekre KMFM. "Bagusnya nggak masuk akal gituh?" sambungku. "Akhir pekan ini kosong, nggak?" tanya Wahyu pada para lelaki di sekre. Terlihat sebagian berbaring santai, sebagian lagi bercerita. Saat itu saya merasa orang yang bercerita adalah orang yang sadis. Sadis sekali berbicara dengan intensitas bunyi beratusan desibel. Supri contohnya. Meskipun, Supri ini punya tubuh yang jika kita melihatnya, hasrat untuk mencubit pipinya bisa timbul. Eh, maaf. "Kenapa?" tanya Ipul dengan suara wibawanya. Dengan gaya bicaranya yang seperti itu, tidak terlalu tua untuk usianya yang sekarang. Cukup singkron dengan wajahnya yang tampan. "Sindoro! Kita ke Sindoro!" Wahyu menjawab dengan antusias. "AYOK! Ayok, ayok!" Aku yang dari posisi berbaring bangkit duduk. Bayanganku pada sunrise di gunung sambil melihat gunung-gunung lain di Pulau Jawa itu sudah cukup membuat rasa kant...

Sikap Islami Menghadapi Hari Ulang Tahun

Ada satu hari yang dianggap manusia adalah hari spesial, hari yang lebih spesial dibanding hari-hari biasa lainnya pada satu tahun. Iya, itulah hari ulang tahun. Mengapa hari ulang tahun dianggap spesial? Ternyata, kita mengetahuinya dari orang kafir. Iya, kalau bukan dari orang kafir, kita tidak akan tahu atau menganggap bahwa hari ulang tahun adalah hari yang patut dirayakan dan hari yang dianggap spesial. Mengapa begitu? Karena hari ulang tahun itu tidak dikenal dalam Islam. Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan pesta ulang tahun adalah orang Nasrani Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah kue ulang tahun dibuatnya dan dalam pesta itu, kue besar dipotong dan lilinpun ditiup. (Baca buku :Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq, Penerbit Syaamil, hal. 298) Memang tidak jarang umat muslim ikut-ikutan menganggap spesial hari ulang tahun. Padahal, anggapan seperti itu sama sekali tidak pernah diajarkan Rasulullah shollallahu ‘a...

Saat Air Berganti Menjadi Abu

Sekitar pukul 04.45 WIB, hari Jumat, 14 Februari 2014 waktu itu. Langit masih gelap, suasana masih sunyi. Aku kemudian keluar ruangan setelah berjam-jam ada di suatu ruangan. Tak ada yang aneh menurutku, untuk sesaat. Tapi kemudian, aku melihat tanah menjadi berwarna abu-abu. "Ah, ini mungkin karena mataku masih belum sempurna untuk melihat (dikarenakan berada di dalam ruangan berjam-jam)," pikirku. Aku kemudian melihat sekeliling. Kukucek-kucek mata. Tanah menjadi berwarna abu-abu semua. Langit juga masih gelap. Aku kemudian menjauh dari ruangan, menjauh dari naungan atapnya, untuk memastika. Motor yang ada di sekitarku juga menjadi berwarna abu-abu. Aku kemudian menjulurkan tanganku, seperti mengecek apakah ada sesuatu yang jatuh dari langit. Tanganku menjadi berbintik-bintik warna abu-abu. Aku kemudian bisa menyimpulkan bahwa ini sekarang sedang hujan abu. Aku pun sms temanku yang sudah balik ke Jogja apakah benar sekarang sedang hujan abu, karena memang aku ku...

Menggebu-gebu Menuju Merbabu

Tak diragukan lagi bahwa saat penulisan postingan ini adalah malam Sabtu. Dan dua hari yang lalu adalah Kamis. Tak diragukan lagi. Bukan tanpa maksud menulis kalimat tak jelas di atas. Ada ungkapan yang tersirat dari kalimat di atas. Hari Kamis kemarin, tepatnya tanggal 30 Januari 2014, aku dan 12 orang GF '12 menginjakkan kaki di Puncak Gunung Merbabu. Walhamdulillah. Perencanaan keberangkatan menuju Merbabu dimulai sejak Senin (kalau gak salah). Dari salah seorang GF '12 yang mengaku ganteng, nge-post di group FB Geofisika '12 bahwa akan diadakan Geocamp (Geofisika Camping) #2 di Gunung Merbabu dengan tagline  "Menggebu-gebu Menuju Merbabu". Kami semua janji untuk ngumpul di Kontrakan Sejuta Umat jam 11.00 WIB. Terlihat cahaya menembus jendela. Suara hirupikuk kendaraan sudah terdengar. Kasur yang sekarang menjadi singgasanaku begitu nyaman. Perlahan kubuka mata, lalu kuambil jam tangan, terlihat jarum sudah menunjukkan angka 12 (tepatnya 11...

Sepekan yang Mengesankan di KLG 2014

Bismillah. Bisa jadi tanggal 20-26 Januari 2014 kemarin adalah hari-hari yang memiliki kesan yang serba pertama bagi Geofisika UGM 2012. Yak, waktu itu, kami Geofisika UGM 2012 (selanjutnya disebut GF '12 aja ya) baru saja melewatkan hari-yang-seharusnya-dinikmati-untuk-liburan-semester dengan Kuliah Lapangan Geologi (selanjutnya disebut KLG aja yo). Kenapa bisa jadi ini merupakan hari-hari yang memiliki kesan yang serba pertama? Karena banyak sekali kegiatan-kegiatan yang (walaupun tidak mutlak) pertama kali dilaksanakan. Contohnya mengumpulkan catatan lapangan itu malam sehabis fieldtrip , padahal biasanya, kalau kami fieldtrip,  catatan lapangan itu dikumpulkan berhari-hari setelah fieldtrip -nya. Dan beberapa kegiatan lainnya yang mungkin akan diceritakan di bawah ini secara eksplisit #halah. Kegiatan KLG ini diawali dengan persiapan keberangkatan di Hutan Biologi. Persiapan ini juga termasuk foto-foto juga. Hohohoho... Setelah persiapan di sana-sini (termasuk foto-fo...