Langsung ke konten utama

Menggebu-gebu Menuju Merbabu

Tak diragukan lagi bahwa saat penulisan postingan ini adalah malam Sabtu. Dan dua hari yang lalu adalah Kamis. Tak diragukan lagi.

Bukan tanpa maksud menulis kalimat tak jelas di atas. Ada ungkapan yang tersirat dari kalimat di atas.

Hari Kamis kemarin, tepatnya tanggal 30 Januari 2014, aku dan 12 orang GF '12 menginjakkan kaki di Puncak Gunung Merbabu. Walhamdulillah.

Perencanaan keberangkatan menuju Merbabu dimulai sejak Senin (kalau gak salah). Dari salah seorang GF '12 yang mengaku ganteng, nge-post di group FB Geofisika '12 bahwa akan diadakan Geocamp (Geofisika Camping) #2 di Gunung Merbabu dengan tagline "Menggebu-gebu Menuju Merbabu".

Kami semua janji untuk ngumpul di Kontrakan Sejuta Umat jam 11.00 WIB.

Terlihat cahaya menembus jendela. Suara hirupikuk kendaraan sudah terdengar. Kasur yang sekarang menjadi singgasanaku begitu nyaman. Perlahan kubuka mata, lalu kuambil jam tangan, terlihat jarum sudah menunjukkan angka 12 (tepatnya 11.50). Jantung berdetak, mata belalak, mulut menganganga (nga-nya kelebihan euy). Ternyata aku ketiduran. Aku telat 50 menit. Mataku beralih ke handphone (teknologi untuk menelepon yang bisa dibawa kemana-mana kecuali lubang hidungmu). Banyak sms: Ada dua. Satu dari operator dan satu dari Kesawa.

Dengan sok tenang, padahal sedikit panik, aku sms Kesawa: "Habis sholat, aku kesana."

Singkat cerita, kami bertiga belas: Aku, Ahre, Kesawa, Ammar, Imam, Kevin, Hap-hap, Ernanda, Agung, Su, Dua, dan dua manusia yang telatnya minta ampun: Rozak dan Mamad, siap Menggebu-gebu Menuju Merbabu.

Setelah beberapa jam perjalanan (mungkin sekitar 2 jam) dengan menaiki motor, sampailah kami di basecamp pendakian. Kami pun mulai bersiap-siap untuk merapikan barang. Setelah semuanya rapi dan terkendali, pendakian pun dimulai. Jeng jeng jeng jeng....
Anggun sekali ayamnya
Sekitar 10 menitan berjalan agak datar, belum apa-apa kami sudah disuguhkan pemandangan ini
Ini adalah pemandangan di belakang kami, kalo gak salahnya namanya Gunung Sumbing atau Sindoro atau apa ya? Hehehe

Pendakian dilakukan dengan jalan sekitar 5 menitan dan istirahat sekitar 5 menitan juga. Pendakian ini cukup santai. Sampai malam pun tiba, kami tetap mendaki. Kami mulai memakai senter.
Di perjalanan, terlihat langit yang keadaannya berganti-ganti. Cerah-berawan-cerah-berawan. Ketika cerah, terlihat langit dihiasi bintang-bintang. Kami melihat ke atas, tak tahan mulut kami untuk tidak mengucapkan kalimat kekaguman, kalimat pujian pada Sang Pencipta.

Kami berjalan sampai sekitar jam 00.00 WIB, kami sampai di Pos 3 (kalo gak salah). Di sini kami mendirikan tenda. Kami membawa dua tenda. Normalnya, satu tenda untuk sekitar 3 orang. Dan kerennya, kami buat untuk 6-7 orang dalam satu tenda.

Setelah mendirikan tenda, kami memasak air dan menyeduh mie. Beberapa dari kami memilih untuk masuk ke tenda duluan. Kami sepakat, mulai lanjut mendaki jam 03.00. Dan entah bagaimana prosesnya (karena aku sudah ada di dalam tenda), suara-suara memasak semakin hilang. Sepertinya sudah pada tidur.

.......

Aku terbangun jam 2.58 (kalo gak salah). Suara masih tenang. Mungkin pada masih malu untuk bangun. Dan aku pun membaringkan badanku kembali (dengan susah payah karena sempitnya).

Tidak bisa tidur. Sekadar membaringkan badan saja. Dan tak terasa sudah jam 3.55 (kalo gak salah). Waw.

Aku teringat kalimat-kalimat sebelum tidur: "Kita bangun jam 3.00 ya", "kita lanjut daki jam 3.00 ya," "ya yayaya ya..". Dan akhirnya, sampai jam 3.55 pun, kita semua masih pada malu untuk bangun.

Aku keluar tenda duluan. Masih sepi. Aku juga malu untuk banguni teman-teman. Dan melalui beberapa proses tertentu, akhirnya kami semua pun bangun.

Aku melihat masih ada kompor dan panci di tempat yang sama sebelum tidur. Di panci itu ada mie. Yak, mie, teman-teman. Mataku nanar. Aku melihat tajam pada seonggok panci yang berisi mie itu. Ingin rasanya makan mie itu. Tanpa pikir panjang dan emang jarang atau bahkan nggak pernah mikir panjang kalo udah soal makanan , aku makan mie itu langsung dengan tangan. Teman-teman juga pada ngikut. Kita makan dengan buas kalem, nggak terlalu peduli apa yang terjadi pada Mie tersebut sepeninggal kami saat tidur.

Setelah semuanya rapi, kita siap berangkat mendaki lagi. Mendaki round 2 dimulai pukul 4.10 (kalo gak salah).

Udara dini hari sangat dingin. Angin bertiup kencang. Sangat menusuk. Rambut kami pun basah. Kabut sangat tebal. Sarung tangan dan kaos kaki yang dipakai pun rasanya tidak cukup.

Perjalanan tetap dilanjutkan. Kabut yang awalnya tebal, tiba-tiba pergi berlalu #cailah. Dan kami mendapati pemandangan ini sekilas.
Tak tahan mulut ini untuk tidak mengucapkan kalimat kekaguman, kalimat pujian pada Sang Pencipta.
Dan pemandangan ini hanya sebentar karena kabut itu kembali lagi. Pergi untuk kembali. Ah, mudah sekali. Mudah sekali datang dan pergi seperti cinta


Perjalanan lanjut. Rambut kami basah. Dan banyak di antara kami sudah mulai berbicara: "Rasanya tanganku seperti ditusuk" atau "Tanganku sudah mati rasa" atau "Brrrr..Dingin sekali."


Melihat puncak yang terasa dekat, beberapa dari kami berkata-kata "Ayo, sedikit lagi!" dan ada juga yang berkata, "Kalian sajalah (yang pergi ke puncak). Aku nggak kuat. Dinginnnn banget!!"

Tapi apa yang terjadi saudara-saudara....???

Kita semua, bertigabelas akhirnya menginjakkan kaki di Puncak tertinggi Gunung Merbabu, sahabat Gunung Merapi, 3142 meter di atas permukaan laut.
Seperti bukan di puncak, karena memang kabut gentayangan dimana-mana. Tapi, Alhamdulillah.
Tidak menyangka saja. Salah seorang di antara kami bahkan sempat berpikiran pesimis untuk menyerah sejak malam hari, ingin turun saja katanya. Tapi lihat. Kami semua, lengkap, bertigabelas, berhasil menginjakkan kaki di 3142 mdpl.

Daerah puncak cukup ekstrim. Dengan daerah pijakan yang sempit, pinggirannya berupa jurang yang sangat curam, yang rasanya jika terjatuh, bukan menggelinding, melainkan jatuh langsung. Dengan angin yang sangat kuat, bahkan si Su mengatakan ini daerah yang cukup berbahaya. Kalau saja si Su sudah berkata demikian, bagaimana lagi teman-temannya (Konon, Su adalah bolangnya Geofisika '12).

Setelah puas berfoto ria, kami pun turun jam 9.30.

Untuk beberapa jam, kami turun tidak bisa dengan berdiri (kecuali Su). Dan setelahnya kami bisa turun dengan lancar. Bahkan aku yang pertama sampai di Pos 1, selisih belasan menit dengan yang lain. Ini karena aku nggak mau lagi kaki nggak bisa dibengkokan karena salah ambil sikap untuk jalanan menurun, seperti sehabis dari Gunung Merapi.

Kami sampai di basecamp jam 13.00 (kalo gak salah). Beda banget durasinya pas mau naik. Naik dari jam 17.00 sampai pagi (dikurangi 3 jam untuk tidur) sedangkan turun dari jam 9.30 sampai 13.00.

Walhamdulillah...

Komentar