Langsung ke konten utama

Postingan

Berapi-Api Menuju Merapi

Memang tulisan ini sudah telat banget Tanggal 9 Mei 2013, di siang hari, beberapa pemuda yang mencuri waktu di sela-sela praktikum Fisika Dasar sedang berdiskusi. "Eh, besok kan kita libur beberapa hari, nih. Ke Merapi, yuk!" kata salah seorang pemuda dengan logat Bekasinya. "Eh, ayok!" tanggap seorang pemuda lainnya dengan logat Jambinya. Lalu, percakapan selesai. Aku berpikir itu hanyalah percakapan yang tidak serius. Ya, biasalah, anak muda. Hanya mengobrol di sela-sela waktu luang praktikum. Kemudian, malamnya, aku online facebook . Kulihat ada beberapa notification . Salah satunya dari group Geofisika '12. Ternyata ada postingan pendaftaran siapa saja yang ingin ikut mendaki Gunung Merapi. Yaelah, ternyata serius. Hehehe... Dilihat dari banyaknya komen, sepertinya banyak sekali nih yang mau ikut. Tapi, kemudian, apa yang terjadi? Tepatnya tanggal 10 Mei 2013, fix lah nama-nama yang ikut: Ali, Hendra, Wahyu, Afta, Tangguh, Harun, Jaka, dan Rozak...

Heran Saja Saya

Heran saja saya. Saya heran saja. Saya saja heran. Heran saya saja. Permutasi siklis. (halah...) Seringkali kita mendengar: "Jangan semuanya dikaitkan ke agama. Nggak semuanya bisa dikaitkan ke agama." Heran saja saya. Memangnya tolak ukur sesuatu itu nggak bisa dikaitkan ke agama itu apa? Seringkali kita mendengar: "Ini bukan forum agama. Jadi, jangan bawa-bawa agama" saat diskusi di dalam forum bebas. Saya heran saja. Terus, kalau bukan forum agama, lalu kita bisa berbuat sesuka hati? Seringkali kita mendengar: "Menurutku ini masih boleh kok" saat membantah dalil dan pendapat ulama yang sangat jelas mengenai suatu perkara. Saya saja heran. Apalagi kamu? Seringkali saya melihat uang koin yang tiba-tiba muncul di kantong dan tas di tempat yang terdalam punya saya. Heran saya saja, kamu nggak.

Ceramah Singkat : Tuntunan Taawudz Dalam Membaca Al Quran - Ustadz Aris ...

Bagaimana Bisa Aman dari Fitnah?

Bagaimana bisa aman dari fitnah sedangkan banyak sekali wanita terlalu bermudahan menunjukkan kecantikannya? Terlalu bermudahan menunjukkan kecantikan di dunia maya, dengan meng-upload foto-foto cantiknya, bahkan foto dengan memakai jilbab besar pun belum aman dari fitnah. Fitnah, fitnah, fitnah... Bagaimana bisa aman dari fitnah sedangkan banyak sekali wanita terlalu bermudahan berdekatan dengan lelaki bukan mahramnya? Duduk bersebelahan di kelas, ngobrol sambil bercandaan, lalu memberi senyuman yang sangat berbahaya. Bahaya, bahaya, bahaya... Mengapa bisa merasa nyaman duduk berdekatan bahkan bersebelahan? Bagaimana bisa aman dari fitnah sedangkan di tempat kajian pun masih bisa saja berinteraksi dengan lawan jenis? Hijab tak dijaga dengan baik. Kita tak mau saling tolong-menolong dalam keburukan. Bagaimana kalau kita langsung menghapus foto-foto bagus kita di dunia maya? Bagaimana kalau kita langsung jaga jarak pada bukan mahram kita? Bagaimana kalau kita segera men...

Hikmah di Perjalanan

Deruman suara kendaraan terdengar membuat mata ini berat. Mengantuk. Waktu itu, tanggal 23 Agustus 2013, saya melakukan perjalanan Jakarta-Jogja dengan naik bis. Sempat juga hati ini merasa kurang tenang, mengingat harga tiket bisnya Rp 250.000 di mana katanya biasanya tiket bis Jakarta-Jogja itu Rp 150.000-an. Ini juga perjalanan pertama saya Jakarta-Jogja dengan naik bis. Dengan modal keyakinan akan lindungan Allah dengan didoakan orang tua, saya naik bis sendirian dalam perjalanan yang baru pertama kali saya lakukan. Dari Medan ke Jakarta sendiri, saya naik pesawat. Sampai di Jakarta, saya dituntun oleh orang yang baru saya kenal pas beli tiket pesawat di Medan. Kebetulan orang yang saya temui di agen tiket pesawat di Medan itu tujuannya ke Jakarta di tanggal 20 Agustus 2013. Selama perjalanan di bis, saya lebih banyak diam dan memperhatikan jalanan yang baru saya lihat pertama kali (yaiyalah, orang juga naik sendirian. gimana  nggak diam). Berangkat dari jam 12.00 dari Pul...

Perubahan Rasa Temu Kangen

Tidak bisa dibantah bahwa zaman sekarang ini memang zaman-zamannya informasi sangat cepat diperoleh, baik yang hoax maupun yang benar. Jejaring sosial sekarang semakin marak. Mau facebook, twitter, dan lain semacamnya. Saking maraknya (atau apalah bahasanya yang menunjukkan saking sering digunakan), apa-apa di-update. Baru bangun tidur, di-update di jejaring sosial. Mau makan, di-update. Mau tidur, di-update. Lapar, haus, sakit kepala, sakit perut, pengen pergi, pengen sesuatu, di-update. Marah-marah ke pacar, mantan, teman, bahkan orang tua, di-update. Aib yang harusnya ditutup, di-update. Wah, jadi serba update dah. Ini semua membuat pembaca atau pengguna jejaring sosial yang lainnya pun menjadi tau banyak aktivitas dari si peng-update. Tapi saya yakin satu hal. Aktivitas yang benar-benar seru dan mengasyikkan tidak akan sempat di-update karena sibuk dengan orang-orang di sekitarnya karena serunya aktivitasnya. Nah, karena serba update ini lah, orang-orang menjadi tau perk...

Bisa Jadi Ini Renungan

Kita memasuki zaman di mana mengerjakan bid'ah lebih baik daripada mengerjakan sunnah. Saat yang tidak merapatkan shaf shalat dianggap menjaga image (jaim), sedangkan yang merapatkan shaf shalat dianggap menjijikkan dan terlalu ekstrimis. Padahal ada perintah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta untuk merapatkan shaf. Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiallahu Ta’ala ‘anhuma- beliau berkata: Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya  (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)” HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al...