Langsung ke konten utama

Bisa Jadi Ini Renungan

Kita memasuki zaman di mana mengerjakan bid'ah lebih baik daripada mengerjakan sunnah.

Saat yang tidak merapatkan shaf shalat dianggap menjaga image (jaim), sedangkan yang merapatkan shaf shalat dianggap menjijikkan dan terlalu ekstrimis.
Padahal ada perintah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta untuk merapatkan shaf.
Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiallahu Ta’ala ‘anhuma- beliau berkata: Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya  (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)” HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (743)

Kita memasuki zaman di mana mengerjakan bid'ah lebih baik daripada mengerjakan sunnah.

Saat yang membaca istighfar dan yang tidak memerintahkan makmum agar meluruskan dan merapatkan shaf sebelum shalat berjamaah dianggap sebagai wibawa dan jaga image, sedangkan yang tidak membaca istighfar dan memerintahkan makmum agar meluruskan dan merapatkan shaf sebelum shalat berjamaah dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.
Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta selalu memulai shalatnya dengan takbir bukan istighfar.
Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhuma ia berkata:
“Aku melihat Nabi Shallallahu’alahi Wasallam memulai shalatnya dengan takbir, lalu mengangkat kedua tangannya” (HR. Bukhari no.738)
Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta selalu memperhatikan makmumnya sebelum shalat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ”Tegakkanlah shaf-shaf kalian dan rapatkan karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari  balik punggungku”. (HR. Al-Imam Al-Bukhory dalam Shohih-nya (719))

Kita memasuki zaman di mana mengerjakan bid'ah lebih baik daripada mengerjakan sunnah.

Saat yang tarawih memakai Bilal dalam shalawatan dianggap mengerjakan sunnah dan baik, sedangkan yang tidak memakai Bilal dianggap aneh dan garing.
Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta tak pernah mengajarkan yang seperti itu. Tidak ada hadits-hadits yang mengajarkannya. 

Kita memasuki zaman di mana mengerjakan sunnah dianggap aneh.

Saat mencukur habis jenggot dianggap lebih baik dan tampan serta wibawa,  sedangkan membiarkan jenggot dianggap teroris, tidak rapi, dan aneh.
Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta memerintahkan kita untuk memelihara jenggot.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim no. 625)

Kita memasuki zaman di mana mengerjakan sunnah dianggap aneh.

Saat isbal (menjulurkan celana sampai melebihi mata kaki) dianggap memperbagus penampilan, sedangkan yang tidak isbal dianggap tidak rapi, tidak sopan, teroris, dan ekstrimis.
Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta melarang kita untuk isbal.
“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud 4084, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)
Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta memberitahu kita bahwa kain yang dibawah mata kaki itu ada di neraka.
“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari 5787)

Kita memasuki zaman di mana mengerjakan sesuatu yang dilarang dianggap lebih menarik daripada mengerjakan sesuatu dengan hati-hati.

Saat berdakwah dengan komik dianggap mampu mengambil hati masyarakat, sedangkan berdakwah tanpa gambar dianggap garing dan tidak terlalu semangat dalam berdakwah.
Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta melarang kita untuk meniru atau menggambar makhluk hidup.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para penggambar.” (HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109)
“Semua tukang gambar itu di neraka. Allah memberi jiwa/ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di dunia). Maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.” (HR. Muslim no. 5506)

Kita memasuki zaman yang keadaannya banyak terbalik.

Saat orang-orang kebanyakan lebih memilih sesuatu yang asalnya hanya sekadar ikutan, sedangkan sesuatu yang asalnya dari Al Quran ditinggalkan.
Ketika dikatakan "inilah dalilnya, maka lakukanlah ini dan tinggalkanlah itu," malah hanya dibantah dengan: "Masa itu ditinggalkan? Bukankah ini sudah menjadi tradisi kita? Janganlah memecah belah umat." 



Kita memasuki zaman yang keadaannya banyak terbalik.

Saat orang yang nikah muda dianggap jelek dan dicaci, sedangkan yang berzina dibiarkan malah diberi motivasi.
Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta memerintahkan agar segera menikah bila sudah mampu.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan untuk menikah), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400)

Kita memasuki zaman yang keadaannya banyak terbalik.

Saat orang yang berpoligami dianggap menyimpang, sedangkan yang bezina malah diberi dukungan.
Padahal Islam membolehkan poligami jika mampu berbuat adil.
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisa`: 3)

Kita memasuki zaman yang keadaannya banyak terbalik.

Saat ukhuwah lebih dipentingkan daripada syariat.
Seringkali syariat ditinggalkan hanya karena alasan "takut terpecahnya umat Islam".
Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta mengajarkan tauhid dahulu, lalu ukhuwah pun akan terjalin kuat dengan otomatis. Karena memang seperti itulah adanya.
Apalah arti dari ukhuwah jika ilmu agama tidak didapatkan.

Beginilah zaman sekarang. Mereka para pelaku bid'ah seringkali mengatakan: "Ini, kan baik? Apa salahnya mengerjakan ini? Maulid kan baik. Mengingat Rasulullah. Tarawih pakai Bilal kan baik. Ada shalawatnya."
Maka ketika mereka berkata seperti itu, ingin sekali diri ini bertanya:
Apakah Abu Bakar ash-Shiddiq lebih baik daripada kalian?
Apakah Umar bin Khattab lebih baik daripada kalian?
Apakah Utsman bin Affan lebih baik daripada kalian?
Apakah Ali bin Abi Thalib lebih baik daripada kalian?
Saya yakin orang-orang ini akan menjawab "IYA" dengan sangat lantang. Karena memang seperti itulah adanya.
Tapi, apakah orang-orang ini pernah mendengar mereka melakukan perkara-perkara baru (bid'ah) dalam agama yang orang-orang ini anggap baik itu? Maka orang-orang ini pun akan menjawab "TIDAK" dengan sangat lantang. Karena memang seperti itulah adanya.
Mengapa lebih semangat mengerjakan bid'ah yang jelas tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam daripada yang sudah ada tuntunannya. Yang diperintahkan saja belum bisa sempurna dalam mengerjakannya (termasuk saya), konon apalagi mengerjakan apa yang tidak diperintahkan.
Jika mau dipikir baik-baik, keadaan dunia ini yang seolah terpecah-pecah karena memang kurang mau benar-benar dalam mengamalkan apa yang sudah diajarkan Rasulullah dan lebih memilih membuat sesuatu yang baru.


Hadits-Hadits Tentang Bid'ah:
  1. “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
  2. “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)
  3. “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)
  4. “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)
  5. “Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya”  (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)
  6. “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049)

"Yang penting baik" itu tidak berlaku jika tidak berasal dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam. Percuma melakukan sesuatu yang baru yang dianggap baik itu jika tidak berasal dari Rasulullah.
“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. ٍSetelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari no.5063)

Lihat hadits di atas. Tiga orang itu punya niat baik, tapi jelas itu dilarang oleh Rasulullah. "...Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku"

Semoga saya (yang masih sedikit ilmunya ini) dan saudara/i sekalian mampu melaksanakan sunnahnya dan dijauhi dari perkara bid'ah.

Komentar