Langsung ke konten utama

Hikmah di Perjalanan

Deruman suara kendaraan terdengar membuat mata ini berat. Mengantuk. Waktu itu, tanggal 23 Agustus 2013, saya melakukan perjalanan Jakarta-Jogja dengan naik bis. Sempat juga hati ini merasa kurang tenang, mengingat harga tiket bisnya Rp 250.000 di mana katanya biasanya tiket bis Jakarta-Jogja itu Rp 150.000-an.

Ini juga perjalanan pertama saya Jakarta-Jogja dengan naik bis. Dengan modal keyakinan akan lindungan Allah dengan didoakan orang tua, saya naik bis sendirian dalam perjalanan yang baru pertama kali saya lakukan. Dari Medan ke Jakarta sendiri, saya naik pesawat. Sampai di Jakarta, saya dituntun oleh orang yang baru saya kenal pas beli tiket pesawat di Medan. Kebetulan orang yang saya temui di agen tiket pesawat di Medan itu tujuannya ke Jakarta di tanggal 20 Agustus 2013.

Selama perjalanan di bis, saya lebih banyak diam dan memperhatikan jalanan yang baru saya lihat pertama kali (yaiyalah, orang juga naik sendirian. gimana  nggak diam). Berangkat dari jam 12.00 dari Pulogadung. Dan hingga jam 17.00 WIB, bis pun tak berhenti untuk istirahat. Waktu itu saya belum shalat Dzuhur dan Ashar. Dengan bermodalkan sedikit ilmu, saya memberanikan diri untuk shalat di kendaraan. Kenapa ada istilah "memberanikan diri"? Karena itu pengalaman pertama saya shalat di kendaraan, dan kebetulan juga ada orang yang duduk di sampingku. Saya hanya merasa, bahwa penampakkan orang shalat di kendaraan masih agak terasa asing karena saya belum pernah lihat orang shalat di kendaraan.

Tentang shalat di kendaraan, bisa dibaca ini.
http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-di-atas-kendaraan/
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/4194-shalat-di-pesawat-dan-kapal.html
http://www.konsultasisyariah.com/tayamum-di-kursi-kendaraan/

Akhirnya, jam 17.30 bis pun berhenti di tempat makan. Saya beli makan nasi tempe sayur dan teh botol. Saya yakin menu yang saya ambil ini harganya murah, palingan Rp 4.500 lah. Tapi, takdir berkata lain. Ternyata harganya Rp 10.000 *makjleb*

Oke, perjalanan lanjut. Matahari sudah terbenam. Jalur Pantura terasa menjadi lebih ekstrim dengan jalanan yang luas dan di sampingnya terdapat sawah yaang sangat sangat luas. Hampir tak ada persimpangan. Saya lebih memilih untuk tidur lagi. Sampai sudah masuk waktu maghrib, Saya shalat di kendaraan lagi dan menjamak shalat maghrib dengan Isya.

Singkat cerita, akhirnya saya sampai di Kartasura, saya ganti bis. Di bis yang kedua ini, terasa lebih padat dari bis yang pertama. Saya duduk paling belakang dekat barang-barang dagangan pasar. Saya belum shalat Subuh, dan lagi-lagi saya agak merasa kikuk untuk shalat di kendaraan lagi.

"Jombor...Jombor...", teriak knek bis menandakan Terminal Jombor Jogja sudah dekat. Saya pun bersiap-siap untuk turun. Pas saya sudah siap untuk turun, saya agak merasa aneh. Kok nggak kayak terminal Jombor Jogja?

"Jombor, pak?" tanya saya pada knek bis tadi.

"Ya, Jombor Klaten."

Alamakjang. Saya pun nggak jadi turun. Malang sekali supir bisnya. Lebih-lebih lagi, bisnya sudah dikurangi kecepatannya karena mengetahui saya yang mau turun.

Saya pun jadi ragu bahwa bis ini akan sampai di terminal Jombor. Saya pun memberanikan diri untuk bertanya pada seorang bapak yang duduk di sebelah saya.

"Maaf, pak. Ini bisnya ke Jombor nggak, pak?" tanya saya.

"Oh nggak mas," jawab bapaknya dengan santun. Memang orang Jawa itu terkenal dengan kelembutan dan kesantunannya. Beda dengan orang Sunda. Terkenal dengan geulis-geulisnya (apa hubungannya yak)

Waduh! Gawat. Bisnya nggak ke Jombor!!!??

"Maaf pak. Saya turun di sini aja," kata saya pada knek bisnya.

"Udah nanti aja. Turun di Terminal Giwangan aja," kata knek bisnya.

Ooooo... Jadi agak tenanglah saya. Giwangan juga ada di Jogja.

"Di sana ada Trans Jogja nggak, pak?" tanya saya pada bapak di sebelah saya.

"Oh ada, mas."

Dan saya dan bapak itu pun melakukan percakapan ringan.

Sampai di terminal Giwangan, saya turun. Waktu itu jam 5.30 pagi (berarti saya sudah melakukan perjalanan kurang lebih 18 jam). Saya mencoba cari halte Trans Jogja. Lagi dalam masa pencarian, datanglah beberapa bapak Ojek kepada saya. Saya waktu itu serasa jadi artis yang baru turun dari mobil dan disambut banyak wartawan *ngimpi*

"Mas, ojek, mas. Ojek?" begitulah kata beberapa bapak ojek.

Saya mikir. Enaknya sih naik ojek juga langsung nyampe kosan.

"Ke RS Sardjito berapa ya, pak?" tanya saya pada salah seorang bapak ojek.

"50 ribu mas."

*makjleb*

Demi Allah, uang yang saya pegang waktu itu tinggal 20 ribu. Hadeh.

"Kalau 20 ribu, pak?" saya serasa bertanya tidak sopan.

Bapak itu awalnya diam. "Tambah 5 ribu ya mas."

"Wah, demi Allah, uang saya tinggal 20 ribu ni pak."

"Oke, kita berangkat. Sini kopernya mas, saya angkat."

Akhirnya.

Di perjalanan, saya dan bapak ojek itu melakukan percakapan ringan.

"Masnya udah semester berapa?"

"Ini udah masuk semester 3, pak."

"Masnya kuliah yang bagus-bagus ya. Kasihan orang tua, udah ngeluari banyak uang. Iya kan mas ya?"

"Iya pak."

"Yang penting ya mas. Jaga kesehatan. Itu yang penting."

"Iya pak."

"Ohya masnya tadi emang mau ke Giwangan ya?"

"Oh nggak nih pak. Saya juga nggak tau bisnya mau ke terminal mana"

"Wah udah rezeki saya ternyata. Allah udah ngatur rezeki saya dengan mengantarkan masnya ke saya."

"Iya pak. Alhamdulillah."

Sampai di percakapan ini, ingin rasanya saya bertakbir kuat-kuat dan tak terasa air mata sedikit keluar. Benar kata bapak itu. Pengaturan Allah di dunia ini sangat indah. Semua diatur dengan sangat indah. MasyaAllah.

Komentar

  1. 1xbet korean casino review, legal deposit bonuses for players
    1xbet is a popular online casino that 제왕 카지노 is operated 1xbet korean by Curacao Naira Naira Naira Naira Naira Naira Naira Naira Naira Naira Naira งานออนไลน์ Naira Naira Naira Naira Naira Naira Naira Naira Naira Naira

    BalasHapus

Posting Komentar