Langsung ke konten utama

Postingan

Hikmah di Perjalanan

Deruman suara kendaraan terdengar membuat mata ini berat. Mengantuk. Waktu itu, tanggal 23 Agustus 2013, saya melakukan perjalanan Jakarta-Jogja dengan naik bis. Sempat juga hati ini merasa kurang tenang, mengingat harga tiket bisnya Rp 250.000 di mana katanya biasanya tiket bis Jakarta-Jogja itu Rp 150.000-an. Ini juga perjalanan pertama saya Jakarta-Jogja dengan naik bis. Dengan modal keyakinan akan lindungan Allah dengan didoakan orang tua, saya naik bis sendirian dalam perjalanan yang baru pertama kali saya lakukan. Dari Medan ke Jakarta sendiri, saya naik pesawat. Sampai di Jakarta, saya dituntun oleh orang yang baru saya kenal pas beli tiket pesawat di Medan. Kebetulan orang yang saya temui di agen tiket pesawat di Medan itu tujuannya ke Jakarta di tanggal 20 Agustus 2013. Selama perjalanan di bis, saya lebih banyak diam dan memperhatikan jalanan yang baru saya lihat pertama kali (yaiyalah, orang juga naik sendirian. gimana  nggak diam). Berangkat dari jam 12.00 dari Pul...

Perubahan Rasa Temu Kangen

Tidak bisa dibantah bahwa zaman sekarang ini memang zaman-zamannya informasi sangat cepat diperoleh, baik yang hoax maupun yang benar. Jejaring sosial sekarang semakin marak. Mau facebook, twitter, dan lain semacamnya. Saking maraknya (atau apalah bahasanya yang menunjukkan saking sering digunakan), apa-apa di-update. Baru bangun tidur, di-update di jejaring sosial. Mau makan, di-update. Mau tidur, di-update. Lapar, haus, sakit kepala, sakit perut, pengen pergi, pengen sesuatu, di-update. Marah-marah ke pacar, mantan, teman, bahkan orang tua, di-update. Aib yang harusnya ditutup, di-update. Wah, jadi serba update dah. Ini semua membuat pembaca atau pengguna jejaring sosial yang lainnya pun menjadi tau banyak aktivitas dari si peng-update. Tapi saya yakin satu hal. Aktivitas yang benar-benar seru dan mengasyikkan tidak akan sempat di-update karena sibuk dengan orang-orang di sekitarnya karena serunya aktivitasnya. Nah, karena serba update ini lah, orang-orang menjadi tau perk...

Bisa Jadi Ini Renungan

Kita memasuki zaman di mana mengerjakan bid'ah lebih baik daripada mengerjakan sunnah. Saat yang tidak merapatkan shaf shalat dianggap menjaga image (jaim), sedangkan yang merapatkan shaf shalat dianggap menjijikkan dan terlalu ekstrimis. Padahal ada perintah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tercinta untuk merapatkan shaf. Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiallahu Ta’ala ‘anhuma- beliau berkata: Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya  (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)” HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al...

Pulang...Pulang...Pulang...

Assalamu'alaikum. Wah, udah lama sekali nih gak posting. Pas baru login blogger, dashboard-nya terlihat penuh sarang laba-laba. Debu dimana-mana. Ya, begitulah. Dashboard yang jarang diurus. Alhamdulillah. Setelah setahun merantau di kota orang, kota pendidikan (katanya), akhirnya saya pulang juga ke kampung kelahiran saya. Ya, setelah setahun. Saat teman-teman dengan mudahnya pulang ke kampungnya saat liburan semester ganjil, saya malah berkutat di kosan. Tapi, untunnya keadaan tidak pulang itu tidak seburuk apa yang dibayangkan sebelumnya. Mayoritas teman-teman seangkatanku yang diluar Jawa juga nggak pulang. Hehehe... Tanggal 29 Juli 2013 kemarin, saya berangkat ke Bandung dengan menaiki kereta api. Tiba di Bandung pukul 22.22 WIB. Alhamdulillah, ada Sulek, teman SMA saya yang mau menjemput. Terus nginap di kosnya sampai pagi. Paginya jam 6 pagi ke Bandara, terus langsung cus nyampe di Medan jam 10. Luar biasa. Melihat keadaan kota Medan yang (tentu saja) belu...

Memikirkan Jasa Orang Tua

Bismillahirrahmanirrahim. Beberapa hari yang lalu, saya sempat berkunjung ke kota Semarang, dengan agenda untuk ikut rapat organisasi fakultas se-Indonesia. Setelah rapat itu, alhamdulillah, diberi kesempatan untuk berlibur ke tempat-tempat wisata Semarang, salah satunya Lawang Sewu. Tapi di sini saya tidak menceritakan tentang Lawang Sewu melainkan insya Allah menceritakan tentang pelajaran yang saya dapakan secara tiba-tiba. Entahlah, ketika perjalanan pulang menuju Jogja di malam hari, pada pukul sekitar 21.10 WIB, di dalam mobil, saya tiba-tiba mengeluarkan air mata. Hehehe... Saya teringat orang tua saya yang sekarang tinggal di kota Medan. Waktu itu, sambil melihat jalanan di luar mobil, lapangan Simpang Lima, saya tersentak dan berpikir seolah-olah berbicara sendiri: "Inilah. Kamu bisa bahagia pergi ke Semarang, sedangkan orang tuamu belum pernah ke sini. Banyak pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukan orang tuamu. Lalu apa yang telah kamu perbuat? Prestasi tak cuku...

Tentang Berbaik Sangka

Bismillah. Alhamdulillah, diberi waktu untuk menulis lagi setelah lama blog ini tak terurus *bersihi sarang laba-laba* Yah, walaupun ini adalah jamnya mahasiswa masih ngerjai tugas yang kurang masuk di akal (catatan: tulisan ini dibuat jam 00.19 WIB) Beberapa hari terakhir, saya mendapatkan suatu pelajaran bahwa pentingya berbaik sangka. Astaghfirullah, alangkah kotor kita jika kita sok tau menganggap seseorang jelek hanya dari kurangnya informasi yang kita dapatkan mengenai seseorang itu. Saya pun juga tidak bersih sempurna. Tapi, kita pun juga berkeinginan untuk menjadi yang lebih baik dalam masalah akhlaq, kalau kita memang yakin bahwa ada pahala terbaik yang akan diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Hikmah di Perjalanan

            Matahari bersinar begitu terang. Awan di langit tertata dengan rapi. Suhu udara sesuai dengan keinginan tubuh. Hari Rabu kemarin aku dan 9 temanku lainnya berkumpul di Hutan Biologi UGM. Kami berencana pergi ke Selo, mendaki gunung, dengan mengendarai motor. Semua orang dari kami pergi secara berpasangan dalam satu motor. Aku sendiri berpasangan dengan Hendra. Oke, lebih baik kata “berpasangan” diganti dengan “berbonceng” saja ya.  Iya, aku berboncengan dengan Hendra dalam satu motor.             Setelah berdo'a bersama-sama agar selamat dalam perjalanan, kami pun pergi dengan riang gembira. Terdengar sayup-sayup suara musik entah darimana datangnya layaknya backsound dalam sebuah film. Terdengar lagu Have Fun-nya Sheila On 7.  Belakangan baru kusadari, ternyata itu suara musik yang terdengar dari headphone yang kupakai saat itu.    ...