Langsung ke konten utama

Postingan

Bak Matahari Baru untuk Sentra IKM Tanggulangin

Sidoarjo – Sabtu (11/11) - Pangkal Jalan Raya Kludan dari Jalan Raya Tanggulangin terlihat dipenuhi toko tas dan koper. Tidak hanya itu saja. Toko jaket dan sandal juga turut memenuhi pinggiran jalanan yang sekarang sedang direnovasi itu. Barangkali pertanyaan yang terlintas di dalam benak pendatang saat pertama datang ke sini adalah “produksi industri rumahankah? Eh atau produk impor?” Jalan Raya Kludan yang dipenuhi toko tas dan koper serta yang lainnya sedang direnovasi Tidak heran, sebab dari kaca toko saja terlihat tas-tas dengan warna-warna yang tidak mencolok seolah menunjukkan produknya terbuat dari material yang berkualitas dengan model yang elegan. Namun, ada sedikit yang membuat tempat ini kurang meyakinkan: jalanannya masih belum tertata dengan baik karena masih direnovasi. Benar begitu? Masuk langsung ke salah satu tokonya adalah usaha untuk memastikan itu semua. Mendengar kabar dari dunia maya, ada satu toko yang menjadi cikal bakal industri tas dan koper yang ke...

Identifikasi Pengaruh Tinggi Bangunan Terhadap Risiko Resonansinya untuk Mengurangi Potensi Kerusakan Terhadap Gempa Bumi

“Hai, Tangguh… Malam ini kamu ada acara, nggak ? Nonton, yuk ! Aku udah sengaja beli tiket layar tancap bioskop, nih!” kata Disya padaku. Aku menoleh padanya, berpaling dari layar laptopku. Aku terdiam. Tak kusangka kalau dia ingin mengajakku menonton film. Berdua bersamanya. Sekitar 5,3 detik aku hanya diam, menatap matanya. Baru saja aku ingin menanggapi ajakannya, aku merasa gemetar. Getaran badanku terasa cukup kuat. Oh, tidak. Apakah ini yang namanya jatuh cinta? “Tangguh, gempa!!!” Aku kaget. Disya berteriak padaku. Dia benar. Ternyata tidak cuma badanku yang gemetar. Tanda “EXIT” ikut bergoyang. Cangkir di samping laptopku pun juga mengeluarkan kopi. Kursi-kursi yang tidak diduduki bergetar, bergerak sendiri. Ya! Seisi kantor ternyata juga ikut bergetar. Gempa bumi! Tidak lama kemudian, datanglah seorang floor warden menginstruksikan kami untuk jangan panik dan keluar dengan tenang melalui pintu emergency menuju titik kumpul di luar gedung dan dilarang mengguna...

MABA

Pergi ke warung buat beli teman skripsian (baca: Tor*bika Cappucino). Sampai di warung, ketemu seorang mas-mas (baiknya ditulis ‘mas-mas’ yang bisa-saja-nanti-dikira-jamak atau tulis ‘mas’ aja yang kelihatan-agak-aneh-untuk-dibaca, ya?). Mas-mas ini sudah lama sekali saya ingin ajak bicara karena baru sekitar dua bulan ini dia kelihatan sering berjamaah di masjid. Sehingga buat siapa saja berpikir kalau mas-mas ini mungkin saja merupakan orang baru. Kupikir, di warung sekarang inilah sepertinya saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk ngobrol-ngobrol dengan masnya, sekadar ingin menuntaskan keingintahuan kenapa baru kelihatan perkenalan saja. Saya menunggu masnya selesai membeli. Selesai dia membeli, saya dihadapkan atas dua pekerjaan sekaligus: mencegat masnya agar tidak pergi-duluan-biar-bisa-diajak-ngobrol dan berusaha mencegah ibu-ibu warungnya tidak menganggap saya orang yang memberi harapan palsu yang datang-ke-warung-bukannya-membeli-tapi-malah-cuma-ngobrol-dengan-pembeli...

Eat, Pray, and Love (Banyuwangi) II

  “Ini kamarku. Kalian tidur di sini, ya,” kata Angga selesai mengantar kami ke kamarnya.   Aku melihat kamar Angga adalah kamar anak cowok yang memiliki hati yang lembut bagaikan duri. Begitu jika tidak mau dikatakan ‘kamar cewek’. Bagaimana tidak? Kamarnya itu rapi, bersih, harum, dan terlalu memiliki suasana yang feminim banget. Tapi, tunggu, Angga. Kamu tidak boleh bangga. Kamar-anak-cowok-yang-memiliki-hati-yang-lembut-bagaikan-duri ini adalah kamar yang kau tinggalkan berbulan-bulan, kawan. Itu artinya orang lainlah yang merawat kamar ini. Kemungkinan besar adalah ibumu. Bukan kamu, kawan. Bukan. Hohohohohoho…. Selesai menata barang di kamar-anak-cowok-yang-memiliki-hati-yang-lembut-bagaikan-duri ini, aku, Wahyu, Wawa, dan Arif keluar menuju ruang keluarga yang sekaligus ruang tamu. Kami disuguhkan cemilan.  Melihat cemilan itu mataku nanar. Menatap dengan birahi. Terlalu sayang untuk tidak dijamah. Lahap. Ya, kami lahap memakannya. Terlebih lagi W...

Eat, Pray, and Love (Banyuwangi) I

“BTW, Bali itu dekat sama Banyuwangi, kan, ya?” kata Wahyu di Sekre KMFM.   “Iya, bahkan nyebrang dari Banyuwangi ke Bali aja murah. Di bawah sepuluh ribuan lah,” Angga menimpali. Anak Banyuwangi asli ini tetap menjawab dengan bahasa diplomatis banget. Mendengar percakapan dua anak manusia ini membuatku membayangkan keadaan Bali dan Banyuwangi dengan segala kabar keindahannya. Aku membenarkan posisiku yang sedang santai banget -tiduran. Keadaan sekre yang agak sempit ini membuat hati kami makin dekat #eaaa “Yok, ke sana yok!” kataku. “Ayoklah. No wacana!!!” Wahyu menimpali. “Eh, wacana di kalangan mahasiswa cuma dua, Yu. ‘Besok pagi kita jogging, yuk’ dan ‘Mulai besok, aku diet! Yes!’. Banyuwangi mah bukan wacana,” kataku sambil memikirkan dua wacana yang kusebutkan tadi sudah terjadi padaku. Kamu mungkin juga. Iya, kamu. ***   Dua bulan kemudian….   ***   Akhirnya saya melepaskan amanah yang berat ini. Yap. Musyawarah Besar...

Terombang-Ambing Menuju Sumbing III

Baca cerita sebelumnya: 1. Terombang-Ambing Menuju Sumbing I 2. Terombang-Ambing Menuju Sumbing II "Sudah?" Wahyu angkat bicara saat semuanya pada sibuk menikmati keindahan alam-Nya. "Yok..yok" Humaam bangkit berdiri menyandang tasnya. Sepertinya sudah sedikit puas menikmati keindahan malam-Nya. Kami pun melanjutkan perjalanan. Aku yang baru diberi senter pun disarankan untuk mengambil posisi tengah di antara rombongan kami. Malam ini semakin dingin saja. Sarung tanganku basah dan berpasir. Celana kotor dan aku melihat temanku pun seperti itu. Basah dan kotor. Dalam perjalanan yang agak sulit ini -jalanan tanah, sempit, agak mendaki, dengan rumput-rumput liar di sekitarnya dan pohon-pohon yang tumbuh tak beraturan-, aku sering mendongak ke atas, melihat bintang-bintang yang berserakan. Berserakan tapi memiliki keindahan. Mirip dengan kamu (nah loh?). Sudah pukul 00.02, masih belum menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Ya, ternyata perkiraan ak...

Terombang-Ambing Menuju Sumbing II

Motor kembali dijalankan. Kami menuju basecamp pendakian Gunung Sumbing. Dalam perjalanan, aku sering memikirkan: Apa ini tidak terlalu berbahaya? Tapi, aku masih belum menemukan korelasi antara (1) penentuan tujuan yang dadakan dengan (2) persiapannya yang sebenarnya sama, sama-sama ke gunung. Sekitar 10 menit perjalanan naik motor, akhirnya kami sampai di basecamp pendakian Gunung Sumbing. Aku melihat jam tangan: pukul 17.30. Hari sudah gelap. Kabut juga udah muncul. Aku melihat banyak orang di sini, laki-laki dan perempuan. Wahyu mulai mengurus administrasinya. Sedangkan yang lain, mengurus parkiran motor: kunci motor tidak boleh dicabut. Segalanya disiapkan. Menyusun letak barang dalam tas carrier juga cukup penting untuk dilakukan, mengingat medannya yang cukup terjal. Yang belum beli sarung tangan dan penutup kepala pergi ke toko terdekat buat beli. Kemudian shalat maghrib berjama'ah di masjid terdekat dan dijamak-qashar dengan shalat Isya. Briefing sebent...