Jumat, 26 Mei 2017

MABA


Pergi ke warung buat beli teman skripsian (baca: Tor*bika Cappucino). Sampai di warung, ketemu seorang mas-mas (baiknya ditulis ‘mas-mas’ yang bisa-saja-nanti-dikira-jamak atau tulis ‘mas’ aja yang kelihatan-agak-aneh-untuk-dibaca, ya?). Mas-mas ini sudah lama sekali saya ingin ajak bicara karena baru sekitar dua bulan ini dia kelihatan sering berjamaah di masjid. Sehingga buat siapa saja berpikir kalau mas-mas ini mungkin saja merupakan orang baru.
Kupikir, di warung sekarang inilah sepertinya saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk ngobrol-ngobrol dengan masnya, sekadar ingin menuntaskan keingintahuan kenapa baru kelihatan perkenalan saja.
Saya menunggu masnya selesai membeli. Selesai dia membeli, saya dihadapkan atas dua pekerjaan sekaligus: mencegat masnya agar tidak pergi-duluan-biar-bisa-diajak-ngobrol dan berusaha mencegah ibu-ibu warungnya tidak menganggap saya orang yang memberi harapan palsu yang datang-ke-warung-bukannya-membeli-tapi-malah-cuma-ngobrol-dengan-pembeli-lainnya (karena warung ibu ini adalah warung kecil, sehingga ketika pembeli selesai membeli, pasti akan langsung meninggalkan warungnya ke rumahnya sampai datang pembeli lainnya, sehingga datangnya saya ke warung ibu ini membuat ibunya juga bingung, antara menunggu saya selesai ngobrol dengan masnya atau langsung meninggalkan warungnya).
Kemudian saya bertindak cepat.
Begitu mas-masnya membalikkan badan, saya cegat. “Mas, assalamu’alaikum.” Sambil berjabat tangan, melihat wajahnya, sekaligus melihat wajah ibu warungnya-yang-sepertinya-sudah-menunjukkan-ekpresi-dilema-apakah-meninggalkan-warung-atau-menunggu-saya-selesai-ngobrol, saya langsung berkata kepada ibu warungnya: “Bu, beli Tor*bika yang itu sekian dan yang itu sekian” sambil menjabat tangan masnya dan menunjukkan barang yang saya maksud.
Oke, clear. #HidupLuRibetAmatDahLi
Sementara ibunya menyiapkan pesanan saya, saya mulai percakapan dengan masnya yang sekilas saya lihat wajahnya tampan sekali menunjukkan ekspresi yang sepertinya tidak merasa terganggu untuk saya ajak bicara, bahkan kelihatannya merasa senang.
Saya: Kosnya di mana mas?
Masnya: Oh, di situnya sana mas.
Saya: …
Masnya: Ya, agak ke belakang dikit.
Saya: Oh samping rumahnya Mas Taufik, ya?
Masnya: …
Saya: Namanya siapa, mas?
Masnya: Saddam
Saya: Saya Ali, mas.
Saddam: Masnya kuliah di MIPA, ya?
Saya: Oh, iya… Masnya kok tau?
Saddam: Saya juga di MIPA mas.
Saya: Oh…. angkatan berapa, mas?
Saddam: 2016
Saya: Oh… *sambil mikir, kok mukanya kelihatan sudah berwibawa sekali ya untuk seukuran Maba yang pada umumnya kelihatan polos dan cerah karena belum diracuni lika-liku perkuliahan. Tapi, bisa saja seperti ini, sih, untuk seukuran Maba*
Saddam: Masnya jurusan apa?
Ibu-ibu warung: Monggo mas *sambil memberi bungkusan pesanan saya*
Saya: Oh ya nuwun bu.
Geofisika, mas. 2012… Mas ikut PKM, gak? *sengaja menanyakan ini agar Maba tidak menyesal seperti saya karena masa-masa muda malah tidak tahu PKM*

Saddam: PKM, mas?
Saya: *Dalam hati: ini anak ‘gak tau PKM juga kali, ya*
Iya, mas.

Saddam: Saya kuliah di Kimia, mas.
Saya: *bingung dengan jawabannya*
Saddam: Kimia Pascasarjana
Saya: Oh… Hh
*Di sini saya dapatkan satu moral: jangan cepat menyimpulkan sesuatu jika belum dapat informasi yang lengkap*
Saddam: Sekarang lagi skripsi, ya?
Saya: Iya, mas. Insyaa Allah tinggal skripsi.
Saddam: Semoga dilancarkan mas. Hehehe…
Saya: Aamiin, mas. Asalnya darimana, mas?
Saddam: Sulawesi mas.
Saya: S1 nya dimana dulu mas?
Saddam: Halu Oleo mas
Saya: Oooohhh… *orang Sulawesi memang terkenal ganteng-ganteng dan cantik cantiknya*
Oke, yuk monggo mas.

Saddam: Yuk, mari..mari
Lalu kita berpisah.

Kamis, 19 Februari 2015

Eat, Pray, and Love (Banyuwangi) II

 “Ini kamarku. Kalian tidur di sini, ya,” kata Angga selesai mengantar kami ke kamarnya.
 
Aku melihat kamar Angga adalah kamar anak cowok yang memiliki hati yang lembut bagaikan duri. Begitu jika tidak mau dikatakan ‘kamar cewek’. Bagaimana tidak? Kamarnya itu rapi, bersih, harum, dan terlalu memiliki suasana yang feminim banget. Tapi, tunggu, Angga. Kamu tidak boleh bangga. Kamar-anak-cowok-yang-memiliki-hati-yang-lembut-bagaikan-duri ini adalah kamar yang kau tinggalkan berbulan-bulan, kawan. Itu artinya orang lainlah yang merawat kamar ini. Kemungkinan besar adalah ibumu. Bukan kamu, kawan. Bukan. Hohohohohoho….

Selesai menata barang di kamar-anak-cowok-yang-memiliki-hati-yang-lembut-bagaikan-duri ini, aku, Wahyu, Wawa, dan Arif keluar menuju ruang keluarga yang sekaligus ruang tamu. Kami disuguhkan cemilan. 

Melihat cemilan itu mataku nanar. Menatap dengan birahi. Terlalu sayang untuk tidak dijamah. Lahap. Ya, kami lahap memakannya. Terlebih lagi Wahyu yang kerakusannya mengalahkan kerakusan anak SD yang baru selesai bermain layangan.

“Sabar, nak. Sabar. Kita akan berjaya di sini,” batinku sambil mengelus perut.

Membayangkan keadaan seperti ini sampai seminggu ke depan itu rasanya…

Jadi, sambil mengemil, kami membicarakan rencana beberapa hari ke depan. Insyaa Allah kami akan menjelajahi keindahan Banyuwangi. Dari obrolan ini aku juga jadi tahu bahwa Mas Satria dan Fadlian akan datang ke sini juga. Wiiihhh….

Di pagi pertama di Banyuwangi, kami berjalan ke sawah dekat rumah Angga. Dalam perjalanan menuju sawah, kami tak hentinya melihat Angga bersalaman dengan saudara-saudaranya. Rasanya satu desa ini milik keluarga Angga. Rasanya aja sih….

Sampai di sawah, kami melihat sawah #yaiyalah. Suasananya sangat nyaman. Sangat tenang. Indah juga.

Siangnya kami pergi ke Alun-Alun Banyuwangi.




Sorenya pergi ke Pantai Boom.


Keindahan ini masih awalnya saja.

Jumat, 30 Januari 2015

Eat, Pray, and Love (Banyuwangi) I

“BTW, Bali itu dekat sama Banyuwangi, kan, ya?” kata Wahyu di Sekre KMFM. 
“Iya, bahkan nyebrang dari Banyuwangi ke Bali aja murah. Di bawah sepuluh ribuan lah,” Angga menimpali. Anak Banyuwangi asli ini tetap menjawab dengan bahasa diplomatis banget.

Mendengar percakapan dua anak manusia ini membuatku membayangkan keadaan Bali dan Banyuwangi dengan segala kabar keindahannya. Aku membenarkan posisiku yang sedang santai banget -tiduran. Keadaan sekre yang agak sempit ini membuat hati kami makin dekat #eaaa

“Yok, ke sana yok!” kataku.

“Ayoklah. No wacana!!!” Wahyu menimpali.

“Eh, wacana di kalangan mahasiswa cuma dua, Yu. ‘Besok pagi kita jogging, yuk’ dan ‘Mulai besok, aku diet! Yes!’. Banyuwangi mah bukan wacana,” kataku sambil memikirkan dua wacana yang kusebutkan tadi sudah terjadi padaku. Kamu mungkin juga. Iya, kamu.

*** 

Dua bulan kemudian….

 
***
 

Akhirnya saya melepaskan amanah yang berat ini. Yap. Musyawarah Besar Keluarga Muslim FMIPA UGM (Mubes KMFM UGM) baru saja sudah terlaksana. Di sanalah aku mempresentasikan LPJ-ku dan kawan-kawan seperjuangan, menandakan bahwa aku sudah ‘lengser’ dari jabatan ini.

“Eh, kalian jadi ke Banyuwangi?” tanya Isna di sela-sela istirihat Mubes.

Aku yang-sambil-memakan-ayam-goreng-yang-murahnya-membabibuta menoleh Wahyu. Aku melihat Wahyu yang-sambil-memakan-ayam-goreng-yang-murahnya-membabibuta  menoleh Angga yang-sambil-memakan-ayam-goreng-yang-murahnya-membabibuta. Angga yang-sambil-memakan-ayam-goreng-yang-murahnya-membabibuta menoleh Wahyu yang-sambil-memakan-ayam-goreng-yang-murahnya-membabibuta. Mata mereka bertemu. Wahyu melihat mata Angga. Angga melihat mata Wahyu. Mereka saling melepas senyum itu. Menjijikkan Menggelikan.

“Ayok, jadi!”

“Insyaa Allah”

Dan akhirnya, beberapa hari kemudian, berangkatlah kami ke Banyuwangi. Kami adalah Wahyu, Angga, Arif, Ali, Wawa. Menaiki kereta dengan antusias, berlari karena hampir terlambat, kami berangkat ke kota Banyuwangi, kotanya Angga.

Sampai di dalam gerbong 1, kami menaruh barang-barang kami di tempat barang-barang. Kami berlima terpisahkan oleh gang.

“Eh, Wahyu!” seseorang yang tak kukenal memanggil Wahyu. Aku melihat senyumnya sangat teduh. Aku takut. Takut suka. #NahLoh

“Mas Kamil!” Wahyu menyahut, balas memanggil sambil meletakkan tasnya di atas.

Aku melihat Wahyu bersalaman dengan orang yang belum kukenal. Wawa juga ikut menyalaminya. Sepertinya anak yang bernama Kamil itu adalah anak SM-IAGI, organisasinya Wahyu dan Wawa.

“Wah, ternyata kita satu gerbong ya. Bahkan satu kursi!” kata mas Kamil dengan senyum lembutnya.

“Hahaha… iya mas. Mungkin kita jodoh.” #NahLoh

Aku dan Arif duduk berseberangan dengan Wahyu dan Kesawa (tidak berhadapan). Sedangkan Angga, dia duduk jauh di belakang kami. Beli tiketnya gak barengan sih. Hahaha…

“Yu, kalo mbak itu tukeran tempat duduk dengan Angga yang di sana kira-kira mau, nggak, ya?” tanyaku pada Wahyu dengan berbisik sambil duduk. “Kan cuma mbak itu yang cewek di tempat duduk kalian.” Kasihan cewek sendiri.

Sejurus kemudian aku melihat Wahyu berbicara pelan dengan mbak itu. Kemudian, mbak itu  bangkit dari tempat duduknya.

“Aku titip tasnya boleh, mas?” Tanya mbak itu sambil berdiri, siap meninggalkan tempat duduknya.

“Oh, siap. Boleh, mbak,” jawab Wahyu.

“Kamu bilang apa, Yu?” tanyaku setelah mbak itu baru saja pergi.

“’Mbak teman kami ada di sana. Boleh tukeran tempat duduk dengan mbak?’” Wahyu mengulang dialognya tadi.

Angga pun akhirnya duduk bersama kami sampai Banyuwangi.

Di perjalanan, kami lebih banyak menghabiskan waktu di tempat makan. Alasannya sederhana. Selain untuk makan, tempat duduknya lebih leluasa. Walaupun sudah berjam-jam makanan kami habis, kami masih saja duduk di sana.

Ketika kereta sudah sampai Surabaya, aku merasa takjub. Baru kali itu aku melihat rel kereta di Indonesia ada di tengah jalan raya. Aku juga melihat daerah bencana Lumpur Lapindo Sidoarjo. Tapi, aku heran. Kenapa di Surabaya aku tidak melihat Bu Risma? Katanya Bu Risma walikota. Hufftt…

“Kalian mau bebek atau ayam?” Tanya Angga. Hari sudah sore.

“Bebek aja, Ngga,” jawabku dengan kalem. Zahirnya kalem, tapi dalam hati: “BEBEK, NGGA!!! BEBEK!!! DI MANA AKALKU JIKA AKU MENOLAK BEBEK GORENG YANG ENAKNYA SEMENA-MENA ITU!? BEBEK, WOY! BEBEK!”

Setelah lebih kurang 13 jam perjalanan dengan kereta (07.30-20.30), akhirnya kami berlima sampai di Rogojampi, salah satu kecamatan di Banyuwangi. Rogojampi adalah kecamatan tempat tinggalnya Angga.

Di luar stasiun, kami melihat keluarga Angga menyambut kedatangan kami. Kami pun menyalami ibu Angga dan memeluk ayah Angga.

“…..” kataku dalam hati.

Dari stasiun kami berangkat menuju rumah Angga yang tampan (sengaja bilang tampan karena bayangan bebek goreng) dengan menaiki mobil keluarga Angga. Sekitar 5 menit perjalanan, kami berhenti di tempat makan di pinggir jalan.

“Oh, jadi kita makan bebek goreng di sini?” aku bergumam dalam hati sambil menahan senyum yang hampir saja lepas tanpa alasan.

Dan akhirnya kita pun makan. Makan bebek goreng. Eh, bukan. Maksudnya makan bebek-goreng-gratis-yang-bisa-dimakan-sepuasnya-tanpa-khawatir-uang-jajan-bulanan-anak-kos-akan-habis-ataupun-berhutang-sama-teman-karena-uang-jajan-bulanan-telat-dikirim.*nah loh kok malah curhat*
 
Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Angga yang biasa aja (bebek goreng sudah di perut, jadi nggak perlu jilat Angga dengan sebutan ‘Angga yang tampan’).

Sampai di rumah, kami disambut oleh banyak orang. Ternyata dalam satu gang rumah Angga itu adalah keluarganya Angga. Kau akan mendengar “Saya kakaknya ibu Angga” atau “Saya adiknya bapak Angga” atau “Saya masnya bapak Angga”, dll jika baru saja sampai di rumah Angga.


Takjub sendiri dengan keadaan seperti ini.
 
Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi (biarin gak nyambung sama postingannya juga. Hehehe)

Minggu, 30 November 2014

Terombang-Ambing Menuju Sumbing III

Baca cerita sebelumnya:


"Sudah?" Wahyu angkat bicara saat semuanya pada sibuk menikmati keindahan alam-Nya.

"Yok..yok" Humaam bangkit berdiri menyandang tasnya. Sepertinya sudah sedikit puas menikmati keindahan malam-Nya.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Aku yang baru diberi senter pun disarankan untuk mengambil posisi tengah di antara rombongan kami.

Malam ini semakin dingin saja. Sarung tanganku basah dan berpasir. Celana kotor dan aku melihat temanku pun seperti itu. Basah dan kotor.

Dalam perjalanan yang agak sulit ini -jalanan tanah, sempit, agak mendaki, dengan rumput-rumput liar di sekitarnya dan pohon-pohon yang tumbuh tak beraturan-, aku sering mendongak ke atas, melihat bintang-bintang yang berserakan. Berserakan tapi memiliki keindahan. Mirip dengan kamu (nah loh?).

Sudah pukul 00.02, masih belum menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Ya, ternyata perkiraan aku, Wawa, dan Dikko yang mengatakan bahwa kita bakal sampai di tempat perkemahan jam 12 malam itu salah.

Masih merangkak, mendaki, dan menahan posisi. Aku mulai merasakan hembusan angin yang kencang dan menusuk. Kalau kamu kurus dan ringan, mungkin kamu bisa oleng dan jatuh ke jurang yang ada di sampingmu. Ya, ada jurang di samping kami merangkak.

***

"Nah, di sini kita tidur. Kita dirikan tenda di sini, ya," kata Wahyu.

Sekarang kami berada di tempat para pendaki -pada umumnya- mendirikan tenda. Daerahnya cenderung datar dan aku masih belum terlalu mengerti keadaan sekitar karena memang masih gelap. Juga dingin.

Kami mulai bergegas untuk bersiap-siap. Ada yang mendirikan tenda, ada yang mulai menyalakan kompor portable, ada yang menyiapkan makanan, ada juga yang nge-Path (baca: ngepet): update statoes doeloe.

Oke, yang terakhir itu bercanda.

Aku sendiri ikut membantu mendirikan tenda. Keahlianku dalam mendirikan tenda sudah teruji sejak esempe. Terbukti, setelah mendirikan tenda dua kali, aku dilarang ikut mendirikan tenda lagi. Waktu itu aku berpikir kalau itu artinya "Orang jago ndak usah ikut bekerja. Beri kesempatan ke orang yang belum mahir." Tapi, belakangan diketahui bahwa alasan sebenarnya biar tidak mengacaukan dan menambah kesusahan mereka yang lagi dirikan tenda*.

Tapi, malam ini. Malam yang penuh cekaman ini. Di malam yang gelap, dingin, dan penuh cinta ini, aku ikut dirikan tenda. Menutup aib yang sudah lama tetap tertutup.

"Wisshhh.. Baunya itu loh," kata Isna.

Aku juga ikut mengendus. Ya, tercium bau sedap. Seperti bau akhir bulan. Ya, benar. Bau indomie rebus.

"Entar kita makan bareng!" Aku mendengar orang yang memasak itu. Tapi, kurang tau siapa. Mungkin Yoki.

Selesai mendirikan tenda, kami dengan semangat-tapi-tetap-menjaga-kewibawaan, menghabisludeskandenganbiadab indomie yang terpajang di mangkok yang indah dan terang benderang itu. Indomie itu kami nodai secara giliran. Satu sendok, slurrpp... Aku sendiri, hanya makan satu sendok, lalu memilih masuk tenda untuk tidur.

Lima menit kemudian, aku tidak mendengar lagi suara peperangan orang makan. Sepertinya mereka sudah memasuki tenda.

Kami bawa dua tenda untuk 15 orang. Ya. Dua tenda. 15 orang.

"Kita bangun pas Subuh, ya..." Entah siapa yang berkata seperti itu. Aku tidak terlalu tahu. Tapi, kami meng-iya-kan.

***

Pagi kembali menari. Matahari mendekat, memberi cahaya. Semuanya atas kuasa-Nya. Aku melihat jam tanganku. Pukul 04.30. Tepat sekali. Entah kenapa aku bisa bangun di jam setengah lima tepat. Terasa dingin sekali pagi ini. Bahkan untuk bangun pun aku ragu. Mau lanjut tidur? Jelas tidak, sangat tidak nyaman tidur dalam kondisi yang dingin dan sempit dalam tenda ini.

Tapi, aku memilih untuk bangun. Keluar dari tenda, mengambil langkah yang hati-hati, khawatir menginjak tubuh-tubuh teman-temanku yang masih tidur. Entahlah. Mereka sebenarnya sedang tidur atau hanya sedang malas untuk bangun.

Di luar tenda, aku merasakan kebahagiaan. Bahagia lepas dari kesempitan. Bahagia juga karena ternyata kondisi tempat perkemahan kami seperti ini.
Terlihat Gunung Sindoro
Padahal yang kulihat tadi malam hanyalah gelap. Dan tidak tau tentang Gunung Sindoro yang di belakang.

*bercanda

Rabu, 24 September 2014

Terombang-Ambing Menuju Sumbing II

Motor kembali dijalankan. Kami menuju basecamp pendakian Gunung Sumbing.

Dalam perjalanan, aku sering memikirkan: Apa ini tidak terlalu berbahaya?
Tapi, aku masih belum menemukan korelasi antara (1) penentuan tujuan yang dadakan dengan (2) persiapannya yang sebenarnya sama, sama-sama ke gunung.

Sekitar 10 menit perjalanan naik motor, akhirnya kami sampai di basecamp pendakian Gunung Sumbing. Aku melihat jam tangan: pukul 17.30. Hari sudah gelap. Kabut juga udah muncul. Aku melihat banyak orang di sini, laki-laki dan perempuan. Wahyu mulai mengurus administrasinya. Sedangkan yang lain, mengurus parkiran motor: kunci motor tidak boleh dicabut.

Segalanya disiapkan. Menyusun letak barang dalam tas carrier juga cukup penting untuk dilakukan, mengingat medannya yang cukup terjal. Yang belum beli sarung tangan dan penutup kepala pergi ke toko terdekat buat beli. Kemudian shalat maghrib berjama'ah di masjid terdekat dan dijamak-qashar dengan shalat Isya.

Briefing sebentar, membagi jadwal menyalakan lampu senter, cek perlengkapan tim, dan do'a.

Segala persiapan selesai.

Sumbing...jadi...

BISMILLAH!!!

***

"Li, kita paling belakang, ya," kata Wawa padaku.

"Oce..." aku menjawab sambil membiarkan teman-teman yang lain berjalan terlebih dahulu untuk mengambil barisan paling belakang.

Hari sudah benar-benar gelap. Dingin? Belum. Kami masih berada di daerah pemukiman selama sekitar 15 menit. Setelah itu, kami memasuki daerah perkebunan.

Masuk di daerah perkebunan, kami mengambil jalan berbatu. Jalan ini masih bisa dilalui motor karena cukup lebar dan padat. Kami berjalan, cenderung membentuk barisan satu banjar.

"Hitung!!!" teriak Wahyu.

Semua meneriakkan angka sesuai urutan barisnya.

"Hempat bhelass!!!" teriakku. Tidak terlalu berteriak sebenarnya.

"Lengkap. Lima belas!" teriak Wawa. Tidak terlalu berteriak sebenarnya.

Intensitas bunyi dari teriakkan ini masih lebih kecil daripada suara Supri kala bercerita di sekre KMFM. Serius. Tapi, aku menyarankan kamu perlu berhati-hati sama Supri ini. Sabarnya benar-benar besar. Sangat penyabar. Calon suami idaman.

Masih di jalan berbatu dekat perkebunan, setelah cukup lama. Aku belum melihat tanda-tanda jalanan tanah, sempit, agak mendaki, dengan rumput-rumput liar di sekitarnya dan pohon-pohon yang tumbuh tak beraturan.

Jalan berbatu ini rasanya sulit sekali. Terjal, tapi menerus, tidak seperti tangga alami.

Satu jam berlalu. Capek sekali. Wahyu mengintruksikan untuk istirahat sebentar. Sebagian temanku memilih untuk duduk. Aku memilih untuk tetap berdiri dan melepaskan tas carrier punyaku pinjaman.

"Kita minumnya jangan berlebihan ya. Dibagi juga buat nanti, dan untuk turun dari puncak. Yak. Insyaa Allah kita ke puncak," kata Wahyu sedikit memecah keheningan malam.

Seseorang mengeluarkan gula merah, aku mengambil sepotong. Memakannya sedikit memulihkan energi.

Lima menit berlalu.

"Yok!" kata Humaam.

Semua bangkit, melanjutkan perjalanan.

"Kirah-kirah sampaih ke pos 3 (perkemahan), jam berapah yah?" tanyaku pada Wawa, mulai terasa dingin. Pelan sekali. Tapi, terdengar jelas.

"Kurang tahu tepatnya. Jam 12 (malam) mungkin," jawab Wawa. Dikko juga mengiyakan.

Ya, kami sama-sama tidak tahu. Seorangpun tak ada yang pernah ke sini. Aku kembali memikirkan: Apa ini tidak terlalu berbahaya?

Hampir dua jam berjalan, jalan berbatu ini belum juga menunjukkan ujungnya. Tiba-tiba...

"Alhamdulillah....!!!"

"Haaa.. alhamdulillah!!!"

"Akhirnya!"

Aku melihat ke depan. Tentu saja sambil mendongakkan kepala sedikit karena jalanan ini memang menaik. Aku melihat agak jauh di depan ada cahaya. Rumah? Bukan. Tidak mungkin rasanya.

Senin, 22 September 2014

Terombang-Ambing Menuju Sumbing

"Sunrise. Yah, sunrise itu bagus," kata Wahyu di sekre KMFM.

"Bagusnya nggak masuk akal gituh?" sambungku.

"Akhir pekan ini kosong, nggak?" tanya Wahyu pada para lelaki di sekre. Terlihat sebagian berbaring santai, sebagian lagi bercerita. Saat itu saya merasa orang yang bercerita adalah orang yang sadis. Sadis sekali berbicara dengan intensitas bunyi beratusan desibel. Supri contohnya. Meskipun, Supri ini punya tubuh yang jika kita melihatnya, hasrat untuk mencubit pipinya bisa timbul. Eh, maaf.

"Kenapa?" tanya Ipul dengan suara wibawanya. Dengan gaya bicaranya yang seperti itu, tidak terlalu tua untuk usianya yang sekarang. Cukup singkron dengan wajahnya yang tampan.

"Sindoro! Kita ke Sindoro!" Wahyu menjawab dengan antusias.

"AYOK! Ayok, ayok!" Aku yang dari posisi berbaring bangkit duduk. Bayanganku pada sunrise di gunung sambil melihat gunung-gunung lain di Pulau Jawa itu sudah cukup membuat rasa kantukku hilang.

"Oke, Jum'at atau Sabtu, nih?" Wahyu bertanya juga sambil memikirkan jawaban dari pertanyaannya sendiri.

"Bebas. Akuh bebas," jawabku.

Yang lain juga pada jawab bebas.

"Yaudah. Sabtu. Insyaa Allah."


***

Sabtu, 23 Agustus 2014, jam 7 pagi.

Matahari di Jogja sudah terlalu tinggi untuk melanjutkan aktivitas di kasur. Juga sudah terlalu hangat untuk tidak mandi. Aku bergegas dan menyiapkan barang-barang untuk ke Gunung Sindoro. Sambil menunggu Arif menjemputku, aku kayang tidur.

Jam 9 pagi, Arif sudah datang di kosan. Kami kemudian sarapan nasi kuning (campur telur, tempe, dan keripik), harganya Rp 2.000 dengan porsinya yang cukup banyak. Sudah tidak ambil pusing lagi bertanya-tanya dalam hati seperti dulu: "Kenapa harga makanan di Jogja ini murahnya membabi buta?"

Kami sepakat untuk berkumpul di MIPA Utara atau MU (baca: emyu) jam 9 pagi. Sampai di MU, aku melihat sudah banyak orang yang berpenampilan seperti pendaki gunung.

Singkat cerita, kamipun berangkat menuju Sindoro dengan menaiki motor. Ada 8 motor, ada 15 orang.

Setelah lebih kurang dua jam perjalanan dengan medan yang naik-turun, dingin, dan menantang, kami sampai di basecamp pendakian Gunung Sindoro. Tapi, qadarullah....

***

Aku melihat ekspresi Wahyu yang tidak biasa. Wajahnya datar. Selang beberapa saat, dia senyum kecil. Lebih ke senyum kecut. Aku takut melihat ekspresinya. Kerasukan jin?

Aku kemudian melihat ekspresi teman-teman yang lain. Sebagian heran, sebagian bingung, dan sebagian seperti memiliki solusi.

Jumat, 30 Mei 2014

Sikap Islami Menghadapi Hari Ulang Tahun


Ada satu hari yang dianggap manusia adalah hari spesial, hari yang lebih spesial dibanding hari-hari biasa lainnya pada satu tahun. Iya, itulah hari ulang tahun.

Mengapa hari ulang tahun dianggap spesial? Ternyata, kita mengetahuinya dari orang kafir. Iya, kalau bukan dari orang kafir, kita tidak akan tahu atau menganggap bahwa hari ulang tahun adalah hari yang patut dirayakan dan hari yang dianggap spesial. Mengapa begitu? Karena hari ulang tahun itu tidak dikenal dalam Islam.

Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan pesta ulang tahun adalah orang Nasrani Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah kue ulang tahun dibuatnya dan dalam pesta itu, kue besar dipotong dan lilinpun ditiup. (Baca buku :Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq, Penerbit Syaamil, hal. 298)

Memang tidak jarang umat muslim ikut-ikutan menganggap spesial hari ulang tahun. Padahal, anggapan seperti itu sama sekali tidak pernah diajarkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, padahal seharusnya (pasti) Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyembunyikan syariat. Menganggap spesial saja tidak dikenal maka bagaimana lagi jika merayakannya yang jelas lebih kemirip-miripan tradisi orang kafir?
 
Mengganti Ucapan ‘Selamat Ulang Tahun’ dengan Bahasa Arab
Walaupun diganti dengan ucapan bahasa Arab yang mulia, ucapan batil tetaplah ucapan batil. Walau tanpa memberi ucapan, interaksi sosial yang diajarkan Islam sudah paling sempurna, tidak mengotori ukhuwah Islamiyyah dan tidak mengotori syariatnya yang sempurna, jadi tak ada dosa tidak mengucap selamat ulang tahun, malah ini adalah jalan yang lebih baik dibanding mengucapkannya karena ini merupakan berlepas dirinya dari tradisi orang kafir.

Apa salahnya mengikuti budaya ini? Apa bahayanya?
Bagi seorang muslim, dia akan membenci jika Allah dibuat tandingan, dibuat sekutu-sekutu, dan tidak mengimani bahwa Allah Maha Esa. Maka jelas, seorang muslim sejati tidak menyukai pelaku kekafiran karena telah merendahkan Allah. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka, ini tercakup dalam ayat,
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22]
Dan dari sinilah, dengan mengikuti tradisi mereka perlahan-lahan bisa menjadi bahaya bagi iman kita. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
رَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟

“Sungguh, kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 4822 dari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah menganggap spesial hari ulang tahun beliau?
Pendapat ini berdalilkan dengan hadits. Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)
Ya benar. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya tiap pekan bukan tiap tahun, bukan secara tanggal atau bulan.

Apa salahnya mendoakan di hari ulang tahun?
Mengapa harus di hari ulang tahunnya? Ada apa dengan hari ulang tahun? Memang tidak salah mendoakan saudara kita seiman, lalu kenapa mengkhususkannya di hari ulang tahun? Yap. Jawabannya karena kita sudah menganggapnya spesial dan tak lain dan tak bukan hanya karena informasi-informasi yang kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari bahwa orang kafir menganggapnya spesial bukan karena mendapatkan informasi bahwa Islam juga menganggapnya spesial.

Muslim Harusnya Mewarnai, Bukan Diwarnai
Muslim itu seharusnya mewarnai, memberi warna, bukan malah diwarnai, dikasih pengaruh, sehingga warna muslim itu berubah. Maka, mulai dari sekarang kita menolak yang namanya mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ dan tidak merayakan hari ulang tahun karena Allah dengan alasan: 1.) bukan berasal dari Islam; 2.) Islam tidak menganggapnya spesial; 3.) semua kebaikan sudah disampaikan di Islam beserta tuntunannya secara sempurna, tapi merayakan ulang tahun tidak dikenal Islam sebagai kebaikan; 4.) adanya ancaman bagi siapa saja yang mengikuti kebiasaan orang kafir, sehingga berbahaya untuk akidahnya; 5.) jika saja mengucapkan ulang tahun adalah kebaikan tentu saja para sahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, generasi terbaik, sudah lebih dahulu melakukannya ketimbang kita-kita ini.

Sikap yang Islami Menghadapi Hari Ulang TahunJika demikian, sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun adalah: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun (balik lagi bertanya, mengapa harus di hari ulang tahun). Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.
Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wallahu a’lam.

Referensi:
http://asysyariah.com/akidah-ketika-orang-islam-telah-meniru-orang-kafir/
http://abuayaz.blogspot.com/2010/07/ternyata-ulang-tahun-ada-dalam-injil.html
http://muslim.or.id/manhaj/sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun.html