Langsung ke konten utama

Tadabbur Alam Nanggroe Aceh Darussalam II

NB: Baca cerita sebelumnya di sini, ya :)

Dan, akhirnya sampailah kami di Banda Aceh pada tanggal 14 Desember pukul 03.00 dengan masih memakai pakaian sekolah! Pakaian sekolah! *sengaja diulang biar dramatisir* Pakian sekolah! <--sekarang lihat perubahan tulisannya.

Dan kami pun langsung beristirahat di penginapan Banda Aceh dan bangun pada pukul 05.00.
(Catatan penting: Jujur, Ane baru tau kalo kami tiba di Banda Aceh itu jam 3 dini hari, dan taunya pas Ane bangun jam 5 pagi setelah nanyak teman Ane. Dan jujur juga, ini bermanfaat, karena membuat Ane nggak tau kalo Ane tidur malam hanya 2 jam!)

Setelah sholat Subuh dan tadarus, kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Tujuan pertama kami adalah Kapal Tsunami *tenonet tenonet*

Ternyata perjalanan hanya memakan waktu 5 menit untuk tiba di Kapal Tsunami itu, karena tempatnya hanya berjarak beberapa meter dari penginapan kami.

Lihat, ini beberapa foto kapal Tsunami


Hayo, siapa yang kece di sini



Ini menunjukkan betapa dahsyatnya kejadian tsunami, dan Ane takjub Ane berada di tempat ini. Tempat kejadian tsunami dulu.


Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan menuju Museum Tsunami *tetetet tetet*

Awalnya Ane kira Museum Tsunami adalah suatu tempat bekas kejadian tsunami yang dibiarkan begitu saja dan dijaga keasliannnya untuk dijadikan objek wisata. Tapi, ternyata museum Tsunami itu adalah suatu tempat yang semacam gedung dengan arsitektur yang menakjubkan yang berisi kenangan-kenangan saat terjadinya Tsunami.

Liat, ini beberapa hasil jepretan Ane di Museum Tsunami.
Ini miniatur Kapal Lampulo tadi lo

Museum Tsunami tampak dari luar

Arsitektur yang luar biasa






Ensiklopedia 4 Dimensi ini katanya buatan Mahasiswa ITB lo



Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju PLTD Apung, Kapal Pembangkit Listrik yang bermuara di laut (dulunya). Jadi kapal yang sangat besar ini adalah kapal pembangkit listrik yang pada saat sebelum terjadinya tsunami, tempatnya di laut,tapi setelah kejadian tsunami, kapal ini terhampar ke daratan, dan tentu saja, dibiarkan tetap di daratan, karena rasanya tidak mungkin mengembalikannya ke lautan. Subhanallah.

Gak terasa,waktu Zuhur udah dekat. Kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Raya Baiturrahman.

Pas nyampe di sana, adzan Zuhur berkumandang. Pas sekali. Ane dan teman-teman pun sibuk memfoto Masjid tersebut. Tiba-tiba satu hal terjadi. Pas kami sibuk jepret-jepret, ada seorang lelaki tampan yang berteriak melalu Toa dan berkata dengan tegasnya, "Foto-foto nanti saja. Sholat dulu. Foto-foto nanti saja. Sholat dulu" Begitulah katanya. Yah wajarlah dia ngomong gitu karena memang udah adzan, kan. Tapi, itu membuat ane heran, apakah dia nggak solat juga? (-_-")



Setelah solat dan makan siang di lingkungan Masjid Baiturrahman, kami melakukan kelanjutan perjalanan menuju pelabuhan untuk melakukan penyeberangan menuju Pulau We.

Kami tiba di Pulau We setelah melakukan penyeberangan selama kurang lebih 1,5 jam. Sampai di Pulau We, kami langsung melakukan penaikan mobil sewaan untuk menuju sebuah hotel. Dan kami tiba di hotel yang agak mewah itu pada pukul 19.00 dan langsung melakukan kegiatan pengistirahatan diri untuk melakukan persiapan perjalanan besok. :)

#Bersambung

(Iya, ane taaauuu. Sebenarnya ane gak sengaja melakukan kegiatan penulisan kata "melakukan" yang agak berlebihan)

Komentar

Posting Komentar