Langsung ke konten utama

Silhouette Nampil Lagi

Kayaknya dari judul di atas, bisa ditebak kalo gue ini sedang berdusta. Tapi, jujur, gue tidaklah melakukan pendustaan tersebut, melainkan diriku jujur sepenuh hati atas permasalahan di atas. Oke. GUE UDAH MELAKUKAN PEMBAHASAAN YANG MUBAZIR.

Ngomong-ngomong tentang "pembahasaan yang mubazir", gue jadi semakin benci akan hal tersebut. Yah, bahasa kasarnya, gue nggak suka bahasa resmi. Hehehehe... Bukan berarti gue benci sama Indonesia, ya. Jujur. Gue sangat cinta negara tersebut (ngomong apa lagi ini? -_-) Tapi, apalah daya. Surat-surat resmi, dan segala macamnya banyak mengandung unsur bahasa formal, dan pembahasan mengenai penggunaan bahasa formal udah gue bahas pada postingan gue yang ini

Oke. Stop untuk berbicara yang aneh-aneh. Lidah gue sudah terlipat dengan sangat rapi <--- ini apa lagi? -_-

Back to topic.
Kali ini gue mau cerita kalau beberapa hari yang lalu, Silhouette nampil lagi (ya, "lagi") di acara reuni akbar SMA Negeri 1 Medan.

Nah, perjuangan selama latihannya lah yang akan gue ceritakan. Cerita berikut sangatlah miris, jadi apabila terdapat kalimat yang tidak wajar, silahkan ambil segelas air putih dan beberapa helai kertas. Beberapa benda tersebut sangatlah berguna demi terciptanya kerukunan ._.v (gue tau. gue juga nggak ngerti gue sebenarnya ngomong apa)

Setelah dikasih tau sama event organizer (EO) acara reuni itu kalo Silhouette bakalan nampil di acara itu,
kami pun segera menyusun strategi guna mendapatkan hasil yang terbaik ke depannya.

Pertama.

Tentui lagu yang akan di bawa.

Awalnya, kata EO-nya kami diberi kesempatan membawa beberapa lagu selama 45 menit. Itu berarti (jika rata-rata durasi sebuah lagu=300 sekon=5 menit=1/12 jam) kami harus membawa lagu sebanyak 45 menit :5 menit= 5 lagu! Loh? Kenapa lima lagu? Kan 45:5=9, kan? Karena 45 menit itu udah termasuk dalam bagian ketika vokalis berinteraksi sama penonton. Nah, karena kita tau kalo Sulek, sang vokalis, adalah manusia BC (banyak cakap), maka kita sediakan waktu lebih untuk dia berbicara/berinteraksi dengan penonton). Maka kita pun menetapkan beberapa lagu yang akan dibawa oleh diri kita, Silhouette, yaitu, antara lain, di antaranya sebagai berikut, merupakan, adalah, yakni: Cintaku (Chrisye), Bunga Di Tepi Jalan (Sheila On 7), Si Togol (Arrange by Silhouette), France (Silhouette), Marilah Kemari (Arrange By Silhouette).

Maka, kami pun membawa lagu itu selama latihan.

Kedua.
Latihan rutin.
Jujur, 3 hari setelah kita diberitahu EO-nya, kita belum ada latihan sama sekali! Kebayang, gak? Gue gak kebayang. Kamu gak kebayang. Gue dan kamu gak kebayang. Kamu dan gue gak kebayang. Intinya, gue dan kamu dan kamu dan gue gak kebayang akan hal tersebut.
Apakah ini menandakan Silhouette sangat berbakat sehingga tidak memerlukan latihan? Jawabannya, "Absolutely NOT"
Alasannya kami belum mengetahui secara serius kalo yang bakalan datang nanti adalah para alumni Smansa yang sudah menjadi orang sukses.
Dan akhirnya, setelah pulang dari les (ya, gue ini termasuk anak les :D), gue dan Mitra, sang keyboardist Silhouette berdiskusi mengenai masalah tersebut. Dan terjadilah kesepakatan bahwa kami sangatlah bodoh tidak menyadari bahwa yang akan datang adalah para alumni Smansa yang sudah menjadi orang besar dan akan segera latihan rutin. Dan kami pun mulai latihan sejak H-3   -_-

Ketiga.
Saat hari H.
Nah, hari H inilah yang lebih hebat lagi. Hari itu hari Jumat, hari sekolah. Kami nggak ada diskusi sama sekali mengenai hari nampil ini. Sepulang sekolah pun, Ilham, sang drummer Silhouette pergi ke Komisi Anak padahal 3 jam lagi, tepatnya jam 4 kami harus udah di tempat reuni. Mitra juga sudah pulang katanya ada urusan sebentar. Sulek nggak nampak. Dia menghilangkan wujudnya. Tinggallah aku dan Faruq, sang Basist Silhouette di mushola berdua menunggu ketidakpastian tersebut.

Jam 4.
Mereka belum juga datang. Dan setelah jam 4 lewat 15 menit, semuanya udah ngumpul. Kami pun bersiap-siap, mengganti kostum dan langsung pergi ke Taman Ahmad Yani, karena di sanalah tempat reuninya.

Sampai di tempat, kami tidak menemuinya EO-nya. 15 menit kami menunggu dan bersikap seperti orang aneh di sana. Gue mencari makanan di tong sampah. Sulek menggoyang-goyangkan perutnya seperti layaknya kayak macam lidah yang digoyang-goyang. Faruq goyang pinggul. Mitra melihat ke atas sambil mematung. Tinggallah Ilham yang hanya berdiri dengan kaki bengkok. Teman gue yang ikut, Hafiz dan Akbar, mereka duduk di pojokan sambil berpelukan. Ini sangat miris, teman. Ini sangat miris jika dibayangkan. Jadi, tolong, jangan dibayangkan. Plisss..
Dan akhirnya, datanglah EO tersebut. Ternyata EO-nya cantik, gan. Serius. EO itu pun membimbing kami ke belakang panggung.

Sampai di belakang panggung. Timbul masalah baru. Alat musiknya TIDAK ADA! Astaga! Kirai kami tidak perlu menyediakan alat sendiri. Kami mau nampil pake apa? Pake sapu? Pake mulut? Pake perut yang dijadikan sebagai beat drum? Nggak, kan.

Kami pun melapor pada EO yang cantik tersebut bahwa kami tidaklah mempunyai alat musik dan alat musik yang tersedia hanyalah alat musik milik suatu band alumni yang katanya mereka tidak mau memberikan pinjaman.

Akhirnya EO itu pun meminjam alat musik kepada band alumni tersebut. Entah kenapa, sama kakak EO yang cantik itu, mereka mau memberikan pinjaman. Huh.

Dan, kami pun nampil dengan suka cita. Alhamdulillah, gak terlalu memalukan karena alatnya juga bagus.

Dan ini foto-foto Silhouette dan kawan-kawan








Entah kenapa gaya pas foto lagi main gitar selalu sama kyak yang di atas -_-


Komentar

Posting Komentar