Langsung ke konten utama

Hikmah di Perjalanan



            Matahari bersinar begitu terang. Awan di langit tertata dengan rapi. Suhu udara sesuai dengan keinginan tubuh. Hari Rabu kemarin aku dan 9 temanku lainnya berkumpul di Hutan Biologi UGM. Kami berencana pergi ke Selo, mendaki gunung, dengan mengendarai motor. Semua orang dari kami pergi secara berpasangan dalam satu motor. Aku sendiri berpasangan dengan Hendra. Oke, lebih baik kata “berpasangan” diganti dengan “berbonceng” saja ya.  Iya, aku berboncengan dengan Hendra dalam satu motor.
            Setelah berdo'a bersama-sama agar selamat dalam perjalanan, kami pun pergi dengan riang gembira. Terdengar sayup-sayup suara musik entah darimana datangnya layaknya backsound dalam sebuah film. Terdengar lagu Have Fun-nya Sheila On 7.  Belakangan baru kusadari, ternyata itu suara musik yang terdengar dari headphone yang kupakai saat itu.
            Akhirnya, sampailah kita di jalan menanjak pegunungan setelah melaju selama 2 jam perjalanan. Jalanan berkelok dan menanjak dengan kemiringan sekitar 30-45 derajat. Luar biasa miringnya. Penuh perjuangan untuk menanjakinya dengan mengendarai motor. Di samping kami ada jurang tanpa penghalang yang apabila ada kesalahan dalam berkendara maka kami pun bisa terperosok jatuh ke jurang. Jurang itu sangat tinggi namun terlihat indah. Saat jalan menanjak ini aku teringat sebuah perkataan dari seorang Jabir r.a. ia berkata: “Kami apabila berjalan menanjak, membaca takbir, dan apabila kami turun, membaca tasbih.”

            Aku sendiri yang dibonceng merasa lebih tegang saat aku dan Hendra menanjaki jalanan itu dengan mengendarai motor. Percayalah, orang yang dibonceng pasti merasa lebih tegang pada situasi seperti ini daripada orang yang membonceng.

            Akhirnya, sampailah kami pada tanjakan dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Di antara kami semua, ada dua motor yang tidak bisa naik jika membawa bonceng, yaitu motor Arif dan Atika. Arif, Novi, dan Atika memutuskan untuk tidak naik motor dan menanjaki jalanan dengan berjalan kaki. Demi melihat temanku yang jalan, aku pun juga ikut jalan kaki dan meninggalkan Hendra sendiri membawa motor. Aku tidak tahu dia sedih atau malah senang karena aku tinggali sendiri menanjaki jalanan dengan motornya. Tapi yang pasti, akulah yang seharusnya bersedih hati karena menanjaki jalanan dengan kekuatan kakiku yang tidak seberapa ini.

            Sambil berjalan dengan kepayahan, aku melihat lingkungan sekitar. Subhanallah, Maha Suci Allah, aku melihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Entahlah, waktu itu aku merasa terlalu melankolist (walaupun biasanya memang sedikit melankolist). Aku juga sudah lumayan sering melihat pemandangan seperti ini tapi tetap saja merasa takjub.

            Lalu, sejurus kemudian aku melihat pemandangan yang tidak kalah luar biasanya. Aku melihat seorang nenek tua yang kutaksir umurnya sekitar 70 tahun sedang mengangkat tumpukan jerami atau sejenisnya yang kurasa itu sangat berat. Masya Allah. Nenek itu berjalan menunduk menuruni tanjakan sambil menahan tumpukan jerami yang sedang dipangkulnya. Kaki-kakinya terlihat menahan tubuh untuk tidak berjalan terlalu cepat menuruni tanjakan yang miring itu. Kuperhatikan terus nenek itu, sesekali aku menunduk melihat kakiku. Baru saja aku merasa kecewa karena tidak bisa menaiki tanjakan dengan motor. Akhirnya, karena nenek kuat tadi aku tersadar bahwa aku ini masih muda dan tidak wajar untuk berkeluh kesah karena kekurangan dalam kekuatan fisik. Aku harus kuat.

            “La haula wala quwwata illah billah”, gumamku sambil menanjaki tanjakan.
           
            Setelah beberapa saat berjalan, aku melihat beberapa anak kecil dengan riangnya berlari menanjaki tanjakan. Astaga, terlihat mudah sekali bagi mereka untuk menanjaki tanjakan itu. Tak sedikit pun terlihat ekspresi kelelahan atau kesusahan dari wajah mereka. Sejurus kemudian, aku melihat temanku yang ada di belakangku. Mereka terlihat agak lelah tapi mereka tidak menunjukkannya dengan berkeluh kesah, sementara anak-anak kecil tadi sama sekali tak tampak kesusahan berjalan menanjak. Saat itu aku berpikir, bagaimana kehidupan anak-anak ini? Yang mereka lihat hanyalah pemandangan pegunungan. Bagaimana jika mereka belum pernah melihat suasana perkotaan? Tapi, kemudian aku berpikir. Banyak anak kota yang ingin sekali melihat suasana di pegunungan, akan tetapi belum tentu anak-anak yang di pegunungan ingin melihat suasana perkotaan. Dari suasana ini saja, aku semakin yakin dan memang seperti itulah semestinya bahwa Allah Maha Adil. Orang di pegunungan punya udara yang segar, tanah yang subur, suasana yang tenang, tapi susah dalam memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Sedangkan orang kota mudah dalam memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya, tapi punya udara yang tidak terlalu bersih, tanah kosong susah diperoleh, dan suasana yang ramai. Sekali lagi, Allah Maha Adil.

            Tanda-tanda hujan pun sudah mulai tampak. Beberapa saat kemudian, hujan pun turun. Arif, Novi, dan Atika langsung memakai mantel yang mereka punya. Sedangkan aku hanya memakai jaket jeans yang sama sekali tidak anti air. Aku lupa membawa mantel. Akhirnya kami memutuskan untuk berteduh saja daripada menyusul mereka yang naik motor di atas sana. Kami mendapatkan sebuah rumah yang tampaknya kosong. Lama kami berteduh. Sekeliling kami tidak ada siapa-siapa. Sepi, yang terdengar hanyalah suara hujan yang menenangkan. Aku memerhatikan aliran air hujan di selokan kecil dekat tempat kami berteduh. Hujannya lumayan deras.

            Setelah hujan agak reda, kami pun melanjutkan perjalanan menuju basecamp pendaki (karena mereka yang naik motor menunggu kami di sana), masih dengan berjalan kaki. Singkat cerita, kami pun sampai di basecamp pendaki setelah berjalan kaki menaiki tanjakan selama lebih-kurang 30 menit.
           
            Basecamp itu lumayan terasa nyaman. Cukup nyaman untuk beristirahat. Tapi, mereka yang naik motor tidak terlihat. Mungkin mereka sedang mencari tempat untuk survey seperti yang sudah kami rencanakan dari awal keberangkatan. Kami pun memutuskan untuk tidur sejenak.

            “Wah, capek sekali. Hosh..hosh...”, kata salah satu temanku yang baru saja kembali dari survey. Ya. Teman-temanku yang tadi survey sudah kembali.
           
            Mereka capek? Sudahkah mereka tidur seperti yang baru saja aku, Arif, Novi, dan Atika lakukan? Memang kami awalnya berjalan kaki, tapi tidak terlalu capek. Tapi mereka yang naik motor tadi terlihat lebih capek daripada kami. Mungkin medan yang mereka hadapi lebih berat daripada yang kami lewati tadi. Subhanallah. Allah Maha Adil. Kami yang tadinya berjalan kaki, bisa beristirahat. Susah dulu lalu senang kemudian. Sedangkan mereka yang naik motor tadi,  mudah menanjaki jalanan, tapi mereka belum istirahat tertidur seperti kami. Senang dulu lalu susah kemudian. Sama-sama mendapatkan kesusahan dan sama-sama mendapatkan kesenangan.
           
            Beberapa jam kemudian, kami pun turun dengan menaiki motor. Tak satupun dari kami yang turun dengan berjalan kaki. Kabut sudah turun. Jarak pandang hanya sekitar 5 meter. Jalanan sempit, turunan yang sangat terjal, dan di samping jalanan ada jurang yang dalam. Butuh kepercayaan diri yang kuat untuk selamat dan tentu saja, tidak bisa dipungkiri bahwa kita membutuhkan pertolongan Allah SWT. Dan akhirnya, kami pun sampai di kos masing-masing.

            Pelajaran hari ini yang bisa aku ambil adalah tidak ada keraguan bahwa Allah SWT Maha Adil. Segala keputusan-Nya tidak ada menzalimi makhluk-Nya. Segala keputusan-Nya tentu lebih baik daripada apa yang kita pikirkan selintas.

Komentar

Posting Komentar